Pembinaan Hadirkan Lifter Berprestasi Dunia

PEMBINAAN yang baik sejak atlet berusia muda bakal membuahkan prestasi yang membanggakan. Itu ditunjukkan dua lifter muda binaan Pengurus Besar Persatuan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PB PABSI), Rizky Juniansyah dan Muhammad Faathir, yang menorehkan prestasi dunia.

Di kejuaraan dunia remaja (IWF Youth World Cup 2020) yang dilangsungkan secara virtual dari 11-18 November, Rizky Juniansyah berhasil mempersembahkan 3 medali emas untuk Indonesia di kelas 73 kg putra. Tidak mau kalah, Muhammad Faathir berhasil menyabet dua medali emas dan satu perak di kelas 61 kg putra. Rizky membukukan total angkatan 325 kg, dengan rincian angkatan snatch 145 kg dan angkatan clean & jerk 180 kg. Torehan itu melampaui tiga rekor dunia angkat besi remaja atas namanya sendiri pada Kejuaraan Dunia Junior dan Remaja 2020 di Uzbekistan, Februari lalu.

Dua emas dan dua rekor dunia disumbangkan Muhammad Faathir dari kategori clean and jerk (150 kg) dan total angkatan (263 kg), sedangkan di angkatan snatch seberat 113 kg, Faathir harus puas merebut perak.

Wakil Ketua Umum PB PABSI Djoko Pramono mengaku bangga atas prestasi lifter muda Indonesia tersebut. “Kami sangat bangga dengan prestasi ini, tidak ada prestasi tanpa perjuangan. Para atlet dan pelatih telah bekerja sangat keras untuk mendapatkan prestasi ini,” ucap Djoko dalam pesan singkatnya, kemarin. “Ini sebuah bukti, apabila atlet Indonesia dibina dengan program yang sistematis dan bekelanjutan, mulai youth (remaja) insya Allah akan mencapai prestasi puncak ke depannya,” tukasnya.

“Saya cukup puas dengan hasil ini, tapi tidak akan larut dalam kemenangan. Saya masih belum puas dengan angkatan yang saya raih, terutama di angkatan clean and jerk. Harusnya, target saya 186 kg,” kata Rizky dalam keterangan pers, kemarin.

Mendapatkan hasil menggembirakan, pelatih kepala Tim Angkat Besi Indonesia, Dirdja Wihardja, mengaku bangga. Namun, lanjut Dirdja, masih harus banyak latihan untuk mempersiapkan mereka sebagai lifter terbaik di dunia. 

“Ke depannya kita harus poles lagi dengan penguatan otot pinggang agar benar-benar siap. Yang paling penting fondasinya harus diperbaiki lagi,” tukas Dirdja. (Rif/R-2)