Penurunan Bunga Untungkan Bursa Saham

 

PENURUNAN suku bunga kebijakan Bank Indonesia (BI) membuat penguatan di Bursa Efek Indonesia (BEI) berlanjut.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) di BEI ditutup naik 36,54 poin atau 0,66% ke posisi 5.594,06. Adapun bursa saham di beberapa negara, seperti Singapura, Malaysia, Filipina, Jepang, dan Hong Kong ditutup melemah di tengah aksi ambil untung dan juga peningkatan kekhawatiran atas penyebaran covid-19.

Analis Bina Artha Sekuritas M Nafan Aji Gusta mengatakan penurunan suku bunga yang dilakukan BI merupakan upaya mendukung program pemerintah dalam meningkatkan kinerja pertumbuhan ekonomi nasional.

“Infl asi sudah sangat stabil. Pergerakan rupiah juga sudah sangat stabil. BI juga terus berkomitmen dalam meningkatkan likuiditas dengan meningkatkan program quantitative easing,” ujar Nafan.

Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 18-19 November 2020 memutuskan untuk menurunkan BI 7-day reverse repo rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 3,75%, suku bunga deposit facility sebesar 25 bps menjadi 3%, dan suku bunga lending facility sebesar 25 bps menjadi 4,5%. Dibuka melemah, IHSG tak menunggu lama untuk menguat dan terus berada di teritori positif hingga penutupan perdagangan saham.

Secara sektoral, delapan sektor meningkat dan sektor properti naik paling tinggi, yaitu 2,34%, diikuti sektor pertambangan dan sektor konsumer industri masing-masing 1,38% dan 1,22%.

Dua sektor terkoreksi, yaitu sektor aneka industri dan sektor industri dasar masing-masing sebesar 0,46% dan 0,39%. Penutupan IHSG diiringi aksi beli saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah beli bersih asing sebesar Rp289,06 miliar.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.006.913 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 19,63 miliar lembar saham senilai Rp13,16 triliun. Sebanyak 284 saham naik, 160 saham menurun, dan 172 saham tidak bergerak nilainya.

Manfaatkan pasar modal Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Djustini Septiana, mengungkapkan sepanjang 2020 telah tercatat 137 perusahaan yang memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan dengan total dana mencapai Rp99,7 triliun.

“Termasuk terdapat 40 emiten melaksanakan IPO dan ini merupakan yang tertinggi dalam sejarah di antara bursa efek ASEAN,” kata Djustini saat perayaan 25th Telkom IPO Anniversary yang dilakukan secara virtual, kemarin.

Selain itu, terdapat juga peningkatan jumlah investor dengan single investor identifi cation (SID) hingga awal September 2020 mencapai lebih dari 3 juta investor atau naik hampir 3 kali lipat dalam 3 tahun terakhir.

Djustini juga mengungkapkan bahwa sampai dengan 17 November 2020 terdapat 709 perusahaan tercatat di BEI dengan nilai market capitalization mencapai Rp6.427 triliun. Data ini menunjukkan bahwa meskipun dalam masa pandemi covid-19, pasar modal tetap mampu menyediakan pendanaan. (Iam/Ant/E-1)