Penyelamatan Hutan Berbalut Ekowisata

SEDIH melihat kondisi alam, begitulah yang dialami Ritno Kurniawan saat ke tanah kelahirannya di Sumatra Barat pada 2012. Pemuda yang baru lulus Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, itu mendapati jika mata pencaharian sebagai pembalak liar merupakan hal lumrah di sekitar Hutan Gamaran, Lubuk Alung, Padang Pariaman.

Dalam sehari, 10–15 gelondongan kayu surian (suren), mahoni, atau kayu tropis lainnya biasa dibawa ke luar hutan. Meski penebangan liar itu telah membuat desa dan persawahan menjadi langganan tanah longros dan banjir, warga seolah tidak peduli.

“Mereka pergi ke hutan karena penghasilan mereka lumayan dan instan, beda dengan bertani yang harus berproses berbulan-bulan. Selain itu, karena fi losofi mereka bahwa jika ke laut mencari ikan, tentu mereka di rimba atau hutan mencari kayu. Itulah yang dijadikan patokan warga, kenapa mencari kayu,” kenang Ritno Kurniawan kepada Media Indonesia saat dihubungi, Rabu (30/12/2020).

Pemuda yang lahir di Bukittinggi ini melihat penyelamatan hutan yang masuk ke wilayah Cagar Alam Nasional Bukit Barisan 1 sudah mendesak. Selain ancaman bencana alam makin besar, warga sesungguhnya bisa kehilangan sumber keanekaragaman hayati yang mereka manfaatkan sebagai obat maupun pangan.

Bagi Ritno, solusi sesungguhnya ada pada keindahan Air Terjun Nyarai yang ada di dalam hutan. Ritno yang hobi fotografi mencapai air terjun setinggi 8 meter itu saat bertualang ke dalam hutan.

Berbekal pengalaman melihat pariwisata di Yogyakarta, Ritno yakin air terjun itu juga dapat menjadi objek wisata yang menguntungkan warga jika dikelola dengan benar. Dari situ, pria yang juga lulusan Politeknik Negeri Padang ini mulai menyebarkan idenya ke warga. Sayang, gayung tidak bersambut.

Pemikirannya baru mendapat respons setelah dengan pendekatan ke tokoh-tokoh adat dan diungkapkan saat musyawarah digelar kepala desa.

“Karena tokoh adat di Minang itu disegani anak-anak muda dan masyarakat yang ada di kampung. Saat itu saya katakan kepada mereka bahwa ide ini jika dikembangkan bisa mendatangkan manfaat bagi masyarakat secara langsung,” tuturnya.

Kepada Ritno, para tokoh adat memberi persyaratan pelibatan warga dalam berbagai sisi wisata itu, persyaratan jadwal pengoperasian yang libur pada Jumat, hingga jamin an tidak adanya perbuatan maksiat di tempat itu. Ritno yang mengantongi sertifikat penyuluh pariwisata dari Kementerian Pariwisata, kemudian menyanggupi memberikan pelatihan pemandu wisata kepada warga maupun membimbing warga untuk menjadi pedagang hingga pengojek yang baik.

Ratusan pemandu wisata

Akhirnya, pada April 2013, objek wisata Air Terjun Nyarai resmi dibuka. Meski begitu, pada awalnya hanya 5 warga yang bergabung menjadi pemandu wsiata.

Ritno mempromosikan objek wisata itu melalui media sosial dan mengikuti berbagai pameran wisata yang diselenggarakan pemerintah maupun swasta. Kemahirannya di bidang fotografi membuatnya bisa mengemas objek wisata itu dengan menarik di dunia maya.

“Hampir tiap hari saya di depan laptop untuk mempromosikan tempat wisata ini, kerja sama dengan swasta, pemerintah, ikut pameran, dan menyebar brosur, berbagai macam cara agar lokasi ini bisa diketahui orang dan orang tertarik untuk berkunjung,” tambahnya.

Perlahan warga pun melihat keuntungan dari profesi pemandu wisata. Dengan tiga kali memandu turis, mereka sudah bisa mengumpulkan Rp100 ribu, sebuah pendapatan yang baru bisa mereka dapatkan selama seminggu sebagai penebang liar.

Selain itu, wawasan warga juga semakin luas karena sebagai pemandu, mereka dapat berkomunikasi dengan orang dari berbagai daerah. Meski begitu, hambatan masih kerap muncul dari para bandar kayu dan anak buahnya. Mereka menyebarkan berita negatif soal kegiatan wisata itu dan juga latar belakang Ritno yang bukan asli kelahiran desa itu.

Tantangan lainnya ialah masih adanya penolakan dari para pemilik tanah dan juga masalah perizinan. Lewat mediasi dan bagi hasil, permasalahan dengan pemilik tanah akhirnya dapat diselesaikan.

Sementara itu, Ritno juga mendapatkan izin pengelolaan hutan lindung dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui pola perhutanan sosial atau Lembaga Pengelola Hutan Desa.

Seiring terpecahkannya berbagai permasalahan, minat warga untuk menjadi pemandu wisata meningkat. Pada 2018, jumlah pemandu mencapai 178 orang yang terdiri dari warga biasa maupun warga mantan penebang liar.

Saat ini berbagai kegiatan wisata di sana sudah meliputi trekking hutan, berkemah, pengataman burung, arung jeram, hingga berburu ikan dengan menggunakan tombak (spearfi shing). Untuk bisa menikmati destinasi wisata tersebut, pengunjung bisa dikenai biaya mulai Rp30 ribu sampai Rp270 ribu tergantung dari tempat dan fasilitasnya.

Pengunjung yang datang bukan hanya dari Sumatra Barat, melainkan juga Jakarta, Medan, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Turis mancanegara pun tak kalah banyak, yakni dari Malaysia, Singapura, jerman, Prancis, bahkan Afrika.

Setelah tujuh tahun ini berjalan, aset wisata yang ia kelola mencapai nilai Rp5 miliar, terdiri dari sarana bangunan, posko, gapura, gazebo, parkiran, jalan, WC, dan gedung pertemuan yang didirikan baik dari pendatapan langsung maupun bantuan pemerintah dan swasta.

Ritno juga tidak melupakan program rehabilitasi hutan. Itu ia lakukan lewat program adopsi pohon dan penanaman pohon yang melibatkan wisatawan.

Di tengah pandemi, sama seperti wisata lainnya, objek wisata Air Terjun Nyarai pun terimbas. “Pada saat uang tabungan sudah habis, saya dan teman-teman berjualan ikan untuk memenuhi kebutuhan, tapi sekarang setelah PSBB, pengunjung mulai ada lagi karena mungkin bosan di rumah,” ujar pria yang juga aktif mengelola usaha Lubuk Alung Rafting, @LARafting, yaitu kegiatan arung jeram di sungai Batang Anai. Atas kiprahnya, Ritno dianugerahi penghargaan dari sejumlah pihak termasuk penghargaan bidang lingkungan dari Satu Indonesia Awards (2017) dan nominasi Kick Andy Heroes (2019). (M-1)