Petani sayur Lebak Raup Untung di Tengah Pandemi Covid-19

 

SEJUMLAH petani sayuran di Kabupaten Lebak, Banten mengaku meraup keuntungan cukup besar di tengah pandemi COVID-19 karena permintaan pasar cenderung meningkat.

"Kami sehari memasok sayuran oyong atau siput ke Jakarta sebanyak lima kuintal," kata Dede Supriatna, seorang petani Warunggunung Kabupaten Lebak di Lebak, Senin (12/1).

Budi daya tanaman sayuran oyong di lahan seluas satu hektare di Kecamatan Warunggunung dipastikan dia menguntungkan di tengah pandemi COVID-19. Saat ini, kata dia, penampung sayuran langsung mendatangi petani ke lokasi dengan menerima Rp5.000/kg. Apabila panen lima kuintal maka petani dapat menghasilkan Rp2,5 juta/hari.

"Kami sangat untung usaha sayuran oyong di tengah pandemi sehingga bisa meraup keuntungan sekitar Rp1,5 juta bersih dari penjualan Rp2,5 juta/hari," katanya.

Dia mengatakan budi daya sayuran oyong seluas satu hektare dengan biaya sekitar Rp35 juta, namun diperkirakan bisa meraup keuntungan bersih Rp20 juta selama tiga bulan.

Saat ini, dirinya memperkerjakan empat orang dan mereka bisa beroleh pendapatan Rp3 juta/bulan.

Pengembangan pertanian sayuran di daerah itu guna mendorong masyarakat tergerak bercocok tanam di tengah pandemi COVID-19 untuk tetap beroleh pendapatan. "Kami terus mengembangkan pertanian sayuran karena permintaan pasar meningkat," katanya.

Yanto, seorang petani Bojongleles, Kabupaten Lebak mengaku kewalahan melayani permintaan panenan untuk dipasok ke Tangerang dan Jakarta. Sebab, dirinya mengembangkan pertanian sayuran jenis kacang panjang, ketimun, dan paria di lahan persawahan seluas dua hektare.

"Kami memasok produksi sayuran itu sebanyak satu ton dengan komoditas paria, kacang panjang, dan ketimun rata-rata diterima penampung Rp5.000/kg dan dapat menghasilkan Rp5 juta/hari," katanya.

Dari pendapatan Rp5 juta/hari itu, dipastikan dirinya meraup keuntungan bersih sekitar Rp2 juta/hari, sedangkan panenan sayuran itu bisa bertahan selama 20 hari sehingga dapat menghasilkan Rp40 juta.

"Kami usaha pertanian sayuran sudah 15 tahun dengan menyewa lahan milik warga setempat," kata petani dari Indramayu, Jawa Barat itu.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Lebak Rahmat Yuniar mengatakan saat ini aktivitas petani sayuran mulai menggeliat karena permintaan pasar cenderung meningkat di tengah pandemi COVID-19.

Produk hortikultura, seperti mentimun, paria, oyong, terung, dan kacang panjang dari daerah setempat menembus Pasar Induk Kramajat Jati, Jakarta.  Begitu juga produksi palawija, seperti jagung, kedelai, dan kacang tanah.

"Kami memperkirakan produksi sayuran dan palawija yang menembus pasar luar daerah sekitar empat ton/hari," katanya.

Lahan pertanian sayuran di Kabupaten Lebak tersebar di Kecamatan Rangkasbitung, Cibadak, Kalanganyar, Cipanas, Malingping, Warunggunung, Panggarangan, dan Banjarsari.

Sebagian besar petani sudah menjalin kerja sama dengan pedagang besar di Pasar Induk Tanah Tinggi, Tangerang dan Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta. "Kami terus mendorong petani agar mengembangkan tanaman sayuran dan palawija guna meningkatkan produksi pangan dan pendapatan ekonomi petani," katanya. (Ant/OL-13)