PSBB di Hutan Kamyaka

DALAM sejarah perjalanan hidupnya, Pandawa pernah menjalani masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang amat menyiksa. Selain harus hidup di hutan, lamanya pun tidak hanya dalam hitungan pekan atau bulan, tetapi hingga 12 tahun. Setelah itu, Pandawa masih harus menjalani masa ‘karantina’ selama satu tahun sebelum kembali hidup bebas seperti sediakala.

Drama kehidupan itu terjadi akibat merajalelanya ‘virus’ keserakahan yang telah mendarah daging p ada diri Duryudana (Kurawa). Saudara tua sepupu Pandawa itu merampas Indraprastha (Amarta) dengan cara licik. Padahal sebelumnya, Astina yang merupakan milik Pandawa sebagai ahli waris kekuasaan negara tersebut pun telah dikuasainya secara inkonstitusional.

Apakah pada akhirnya Pandawa terkapar, sekarat lalu mati ketika menjalani PSBB seperti yang dikehendaki Kurawa? Ternyata tidak. Mereka malah seperti terlahir kembali menjadi insaninsan berkualitas bak emas sinangling (emas yang berkilau).

Para kesatria seminau yang menyinari marcapada. 

Laku prihatin

Hidup dalam periode PSBB di Hutan Kamyaka itu merupakan konsekuensi yang dipikul Pandawa akibat kalah bermain dadu dengan Kurawa. Sebenarnya itu bukan kekalahan murni karena permainan dadu yang diatur Sengkuni, patih Astina. Itu sudah direkayasa dan penuh tipu muslihat.

Puntadewa, yang mewakili Pandawa dalam permainan itu, bukanlah tidak tahu pihaknya dicurangi. Begitu juga adik-adiknya-Werkudara, Arjuna, Nakula, dan Sadewa. Namun, Puntadewa berlapang dada dan rela menerima apa pun yang terjadi kalau itu dikehendaki Kurawa.

Sebaliknya bagi Kurawa, kemenangan main dadu itu tidak semata keberhasilan menguasai Amarta, istana dan negara yang dibangun Puntadewa dan adikadiknya dengan swasembada, tetapi juga merupakan cara lain untuk memusnahkan Pandawa setelah berbagai upaya sebelumnya selalu gagal. Itulah gelegak ambisi mereka demi melanggengkan kekuasaan.

Sesuai dengan kesepakatan, Pandawa meninggalkan Amarta dan masuk ke Kamyaka tanpa apa-apa alias bur manuk. Artinya, Pandawa tidak boleh membawa bahan makanan atau logistik dan perlengkapan hidup lainnya. 

Mereka harus menghidupi diri dengan apa yang ada di hutan. Semula, Puntadewa sebagai pemimpin sekaligus sulung Pandawa merasa waswas dengan apa yang bakal terjadi terhadap keluarganya. Ia juga merasa bersalah dan yang paling bertanggung jawab atas ‘tragedi’ yang dialami. Namun, tidak ada satu pun yang menyalahkan Puntadewa, termasuk istrinya, Drupadi, yang dijadikan taruhan dalam permainan dadu. Inilah yang membesarkan hati Puntadewa untuk terus melangkah, membimbing, dan memimpin keluarga menjalani PSBB.

Dalam melakoni masa-masa sulit itu, Pandawa senantiasa ingat wejangan sang kakek, Begawan Abiyasa, bahwa lelakon iku adile
dilakoni. 

Maknanya, hidup dalam kondisi apa pun harus dijalani dengan sabar dan ikhlas. Maka, tidak aneh bila PSBB itu kemudian malah dijadikan Pandawa sebagai gelanggang menempa diri meningkatkan kualitas jiwa kesatrianya.

Siang-malam mereka mempertebal dan mempertajam laku prihatin. Ini, selain lebih untuk semakin mendekatkan diri kepada Sanghyang Widhi, juga demi mencari serta meniti laku mencapai keluhuran dan kemuliaan hidup sejati.

Tidak dendam

Kurawa ternyata tidak berhenti berbuat jahat dan berharap kabar Pandawa mati konyol di Kamyaka yang angker. Mereka tidak jeda berpatroli guna mencegah Pandawa lari dari hutan. Pun mereka tiada henti serta semakin keras meneror demi tujuan mempercepat Pandawa pergi ke alam baka.

Misalnya, Kurawa pernah mengadakan pesta besar-besaran di pinggir Kamyaka. Ini dimaksudkan agar Pandawa, yang setiap hari menahan lapar dan haus, akan tersiksa dan tertekan psikologisnya sehingga kemudian sakit dan menjemput ajal. Namun, polah tingkah gaduh dan foya-foya Kurawa itu disambut kemarahan para gandarwa penghuni hutan yang terusik ketenteramannya.

Para lelembut yang dipimpin Citrasena lalu mengamuk membubarkan pesta dan menggelandang Duryudana. Puntadewa yang mengetahui kabar itu kemudian memerintahkan Werkudara dan Arjuna membebaskan Duryudana dari belenggu gandarwa. Atas bantuan kedua adik sepupunya itu Duryudana lolos dari maut.

Sikap Puntadewa (Pandawa) yang tidak dendam dan malah menolong Kurawa, meski terusmenerus menzalimi, kembali terbukti ketika Jayadrata menculik Drupadi. Werkudara berhasil meringkus adik ipar Duryudana itu dan bersiap membunuhnya. Akan tetapi, Puntadewa mencegahnya sekaligus mengampuni Jayadrata yang telah menampar harkat dan martabatnya.

Meski berulang kali Pandawa berbuat baik, tidak sekali pun Kurawa berterima kasih dan lantas menghentikan upaya-upaya jahat terhadap kelima putra Pandudewanata itu. Doktrin yang diinjeksikan Sengkuni kepada mereka seperti telah memmbalung sumsum, masuk ke tulang sumsum. Bahwa  untuk bisa hidup makmur, tiada pilihan lain selain melenyapkan Pandawa. Pun ketika Pandawa menjalani babak akhir
PSBB, yakni hidup ‘dikarantina’ selama satu tahun. Jika dalam masa yang disebut sebagai periode hidup menyamar itu diketahui, Pandawa harus menjalani PSBB dari awal lagi. Oleh karena itu, Kurawa tiada henti meronda di mana pun untuk menemukan penyamaran
Pandawa.

Hingga mengakhiri masa  karantina, Pandawa dan Drupadi tidak diketahui batang hidungnya. Mereka menjadi warga di Negara Wiratha. Saking rapinya laku penyamaran, raja negara itu, Prabu Matswapati, yang juga kakek buyut Pandawa, pun tidak tahu bila cucucucunya itu berada di sekitarnya.

Ikatan bangsa

Hikmah kisah ini ialah bahwa Pandawa berhasil melewati masa-masa sulit yang mengancam jiwa raga mereka dengan segar bugar. Bukan ketakutan akan kesengsaraan yang mendera, periode penuh keprihatinan itu justru mereka syukuri dengan memanfaatkannya sebagai medan menempa diri menjadi insaninsan linuwih yang hebat lahir dan batinnya.

Pada sisi lain, yang penting lagi ialah ketika mereka mengarungi hidup yang serbakekurangan dan terbatas aktivitasnya itu, ikatan
kekeluargaan Pandawa malah semakin kuat dan solid. Kompak dan bahu-membahu menghadapi setiap masalah menggiriskan dengan tetap menjunjung tinggi nilai dan perilaku utama.

Dalam konteks kebangsaan saat ini, bilamana suatu masyarakat terpaksa menjalani PSBB dalam rangka memutus mata rantai penularan covid-19, kisah Pandawa di Hutan Kamyaka itu bisa diambil nilai filosofi snya. Situasi yang serbacekak (serbaterbatas) itu mesti kita manfaatkan sebagai wahana menggeladi diri menjadi manusia tangguh dan kreatif serta memperkuat ikatan kita sebagai bangsa yang berjati diri. (M-2)