Ramadan

MASJID Tua Al Hilal Katangka atau lebih sering hanya disebut dengan Masjid Katangka, di Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, terlihat lengang pada Minggu (18/4) siang. Di emper masjid bawah beduk, terlihat seorang bapak sedang tertidur lelap. Di dalam masjid ada beberapa jemaah dan pengurut masjid sedang mengobrol.

Masjid yang dibangun pada 1603 ini merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia yang menyimpan kisah masa lampau kerajaan Islam di Gowa. Di bagian depan dan belakang masjid terdapat makam raja dan keluarga Kerajaan Gowa.

Harun Daeng Mangella, pengurus Masjid Tua Katangka yang ditemui , bercerita sejarah dan makna filosofis serta keaslian bangunan masjid masih terjaga hingga saat ini kendati pernah direhabilitasi dan dipugar. Perbedaannya hanya pada bagian lantai, yang awalnya dari tanah liat, saat ini sudah berlantai ubin keramik.

Masjid Katangka didirikan di masa pemerintahan Raja Gowa XIV Sultan Alauddin atau I Manggarangi Daeng Manrabbia, tepatnya pada abad XVII. Saat itu, Kerajaan Gowa kedatangan rombongan ulama yang berasal dari Yaman. Mereka bermaksud mengajak Raja Gowa masuk Islam. Tidak lama, pedagang dari bangsa lain, seperti Portugis, Tiongkok, dan Inggris mulai berdatangan dan membawa serta penyebar agama masing-masing.

Pada saat itulah pedagang muslim mengutus tiga ulama dari Minangkabau untuk menemui Raja Gowa agar bersedia memeluk Islam.

"Ketika Islam diterima Sultan Alauddin, ditunjuklah tempat ini untuk mendirikan masjid. Tempat di mana para pedagang muslim pertama kali melaksanakan salat Jumat di bawah pohon katangka," lanjut Harun.

Masjid Katangka juga digunakan sebagai benteng pertahanan terakhir. Itulah sebabnya dinding masjid ini dibuat setebal sekitar satu meter.

Masjid Katangka juga memiliki banyak makna filosofi pada tiap bagian bangunannya. Empat tiang besar penyangga masjid melambangkan sahabat Rasulullah yang terkenal dengan sebutan khulafaur rasyidin, yaitu Abu Bakar Ash Shidiq, Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, dan Usman bin Affan. Jendelanya ada enam melambangkan rukun iman. Pintunya ada lima melambangkan rukun Islam. Atapnya bersusun dua melambangkan dua kalimat syahadat.

Keunikan juga terdapat pada mimbar. terdapat ukiran sebuah kalimat yang menggunakan huruf Arab, tetapi dalam bahasa Makassar. "Arti kalimat tulisan itu, mimbar ini dibuat pada Jumat, tanggal 2 Muharam 1603 Hijriah yang diukir Karaeng Katangka bersama dengan Tumailalalloloa. Dan pada baris paling bawah punya makna, apabila khatib sudah berada di atas mimbar, kita tidak diperkenankan lagi berbicara masalah dunia," Harun menguraikan.