Ramadan

ALLAH mengajak hambanya yang beriman untuk pandai bersyukur dalam keadaan apa pun, baik senang maupun sedih, baik kaya maupun miskin. Jika mampu dan senantiasa bersyukur, Allah menjamin, hidup ini akan senantiasa terasa nikmat.

Bersyukur artinya menerima apa adanya, lillahi ta'alla dengan ikhlas yang luar biasa. "Bersyukur itu nikmat, kalau sudah pandai bersyukur dia akan menjadi hamba yang senantiasa baik, bagus," kata ustaz Tamsir Ridho dalam tausiahnya yang ditayangkan di Youtube Masjid Agung Al-Azhar.

Ustaz Tamsir menjelaskan, menurut bahasa, bersyukur mengandung arti mengakui kebajikan. Dalam bahasa Arab dikatakan syakartullaha atau syakartulillaah artinya mensyukuri nikmat Allah swt. Bersyukur secara istilah dapat diartikan kasih sayang kepada pihak yang telah baik atau berterima kasih kepada Allah atas segala nikmat yang telah diberikan. Sifat orang yang beriman ialah selalu bersyukur tatkala mendapat sesuatu yang menyenangkan dirinya. Dengan kata lain, seorang dapat bersyukur atas kesenangan yang didapatkannya jika dirinya itu beriman.

Dalam menumbuhkan kemampuan untuk bersyukur dapat keadaan nikmat, Tamsir membagikan beberapa kiat yang dapat dilakukan. Pertama, ubah mindset dengan hal yang baik dari tidak baik menjadi bagus, mulia, dan menyenangkan. Dalam surat Al-Imron ayat 190, di ujung ayat itu disebutkan manusia sebagai ulil albab yang mampu berpikir sehingga harus cerdas dan inovatif. Jadi kalau sudah bersyukur itu nikmat, dalam berpikir senantiasa baik, positif menyenangkan dan membawa kebahagiaan dunia akhirat.

Kedua, yakin dengan rezeki dari Allah. "Dalam pandemi ini tidak boleh khawatir. Rezeki datang dari Allah sehingga kita harus senantiasa bersyukur. Ada sedikit, banyak, ataupun tidak ada tetap ucapkan alhamdulillah," kata Tamsir.

Ia melanjutkan, seluruh ciptaan Allah di mana pun telah diatur perihal rezeki. Jika ciptaan Allah bersyukur tentunya akan menambah keimanan, jika sebaliknya justru Allah akan memberikan azab. "Maka jangan sampai ada teguran. Sudah ada hadis yang mengatakan, nikmat mana lagi yang kamu dustakan," ungkapnya.

Ikhlas

Ustaz Tamsir menambahkan, kiat ketiga, yakni jangan berandai-andai yang negatif, terlebih yang bisa membuat congkak, sombong, dan perilaku lain yang tidak dibenarkan. Manusia, lanjutnya, boleh punya mimpi dan boleh punya program atau rencana, tapi tidak boleh berandai-andai yang negatif.

Selanjutnya, kita harus senantiasa menerima positif mengenai cobaan yang datang. Ia mengatakan Allah yang mewafatkan, Allah yang menghidupkan, dan juga Allah yang menguji setiap hambanya di mana pun dan kapan pun sehingga ending-nya harus mencari husnulkhatimah.

"Kelima, jangan mengeluh sebagaimana manusia hobinya mengeluh. Kita harus sabar, istikamah, tawadu, ikhlas, dan sebagainya," kata dia.

Kiat keenam, lakukanlah kegiatan sosial dengan berbagi kepada sesama, mengutamakan orang lain daripada dirinya. Hal ini bisa dilakukan dengan cara berinfak sebagaimana dituliskan dalam Al-Imran ayat 134. "(Yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan". Kiat yang terakhir ialah selalu berusaha meningkatkan iman dari waktu ke waktu.