Renungan Ramadan

ADA dua orang yang pernah melakukan penelitian disertasi tentang air mata. Seorang dari Jerman dan seorang dari Amerika Serikat.

Keduanya menyimpulkan air mata yang keluar karena tepercik bawang atau cabai berbeda dengan air mata yang keluar karena kecewa dan sedih. Yang pertama tidak mengandung zat yang berbahaya, sedangkan jenis kedua mengandung toksin atau racun.

Kedua peneliti ini merekomendasikan orang-orang yang mengalami rasa kecewa dan sedih lebih baik menumpahkan air mata  kekecewaannya. Kalau air mata kesedihan itu tidak dibuang keluar, akan berdampak buruk bagi kesehatan lambung.

Air mata itu simbol kejujuran. Amat sulit air mata keluar jika tidak dipicu oleh suasana batin atau emosi. Menangis itu indah, sehat, dan menyehatkan. Kalangan psikolog sering merekomendasikan kepada orang-orang tertentu untuk menangis sepuas-puasnya. Kalau perlu, bersuara sekeras-kerasnya. Jika tidak ingin terganggu dengan lingkungannya, menangislah di dalam kolam renang atau di dalam laut.

Menangis itu kesempatan baik untuk ‘menikmati’ kesedihan dan kekecewaan yang sedang dialami. Mena ngis adalah kesempatan langka
karena tidak semua orang bisa menangis. Orang-orang yang suka menangis sering kali dilabeli sebagai orang cengeng. Cengeng terhadap Sang Khaliq adalah positif dan cengeng terhadap makhluk adalah negatif.

Di dalam Islam, ada tiga air mata yang amat mulia dan ketiga jenis air mata ini mustahil masuk ke dalam neraka. Pertama, air mata yang keluar karena terharu dan rindu kepada Tuhannya. Kedua, air mata yang keluar karena menyesali dosa-dosa masa lampaunya.

Ketiga, air mata yang keluar sebagai bentuk protes terhadap kebatilan, kemungkaran, atau kemaksiatan yang ada di sekitarnya. Ia hanya bisa menangis karena tidak punya kemampuan untuk menyingkirkan kezaliman dan kemungkaran itu. Beruntunglah pemilik air mata itu karena Rasulullah SAW menjamin orang itu tidak akan masuk ke dalam neraka. Orang-orang yang gampang berderai air matanya ketika terharu mengingat dan merindukan  Tuhannya, maka air mata itu melicinkannya menembus surga.

Air mata yang tumpah karena menangisi dosa masa masa lalu, maka air mata itu yang memadamkan api nerakanya. Air mata protes dan penolakan terhadap kejahatan menutup pintu neraka.

Imam Al-Gazali dalam Ihya’ ’Ulum al-Din pernah mengatakan, jika seseorang tidak pernah menangis, dikhawatirkan hatinya gersang. Salah satu kebiasaan para sufi ialah menangis. Bebe­rapa sufi mata dan mukanya menjadi cacat karena air mata yang selalu berderai. Tuhan memuji orang menangis: Dan mereka tersungkur dengan muka mereka sambil menangis. Mereka tersungkur dengan bersujud dan menangis (QS Al-Isra:109).

Nabi juga pernah berpesan jika kalian hendak selamat, ja­galah lidahmu dan tangisilah dosa-dosamu. Ciri-ciri orang yang beruntung ialah ia hadir di bumi langsung menangis sementara orang-orang di sekitarnya tertawa kegembiraan.

Jika meninggal dunia ia tersenyum, sementara orang-orang di sekitarnya menangis karena sedih ditinggalkan. Kita  perlu membayangkan apakah nanti ketika kita meninggal dunia lebih banyak orang mengiringi kepergian kita dengan tangis kesedihan atau dengan tawa kegembiraan.

Jika air mata kerinduan terhadap Tuhan tidak pernah lagi terurai, apa lagi jika air mata selalu kering di atas tumpukan dosa dan maksiat, maka perlu kita melakukan introspeksi. Apakah mata kita sudah mulai bersahabat dengan surga atau neraka? Mari kita introspeksi diri kita dalam bulan Ramadhan ini.

Semoga Ramadan kita kali ini membawa perubahan signifikan dalam hidup kita. Aamiin.