Rohaniwan Karo Inisiasi Petisi Tolak Politik Uang

 

PERTAMA kalinya sejak pemilihan langsung diterapkan di Tanah Air, kalangan gereja di Kabupaten Karo, Sumatra Utara, bersatu hati mengampanyekan gerakan menolak politik uang.

Kampanye mereka cuatkan lewat hamparan kain putih sepanjang 400 meter berisi tanda tangan dukungan gereja, jemaat, dan elemen masyarakat.

Pengamatan Media Indonesia, kemarin, tak sedikit dari umat Islam ikut meneken petisi. Kain tersebut dibentangkan di pinggir Jalan Veteran, dekat Tugu Perjuangan, Kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo.

Diawali orasi oleh pimpinan gereja yang diwakili Sekretaris Umum Moderamen Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) Pdt Rehpelita Ginting, para pengurus gereja secara bergantian membubuhkan tanda tangan, diikuti para jemaat dan warga yang melintas.  

Kegiatan itu cukup menyita perhatian masyarakat. Banyak orang yang melintas berhenti sejenak untuk meneken petisi atau mengabadikan momen tersebut.

Sebagai salah satu destinasi wisata tersohor di Sumut, Berastagi merupakan kecamatan paling padat penduduk, selain ibu kota Kabupaten Karo, Kabanjahe.

Kampanye antipolitik uang diinisiasi gereja se-Kabupaten Karo yang tergabung dalam Forum Cinta Tanah Karo. Mereka antara lain Badan Kerja Sama Antargereja, Moderamen GBKP, Pengurus Gereja Indonesia Daerah, Persekutuan Gereja-Gereja Pantekosta Indonesia, Persekutuan Gereja dan Lembaga Injili Indonesia, PHT, serta Gereja Peduli.

Meskipun petisi diinisiasi umat kristiani, umat beragama lain juga ikut menandatangani petisi. Tidak sedikit dari umat Islam yang menyatakan mendukung gerakan tersebut.

Salah satunya Relin Sembiring. Warga Desa Gongsol, Berastagi, itu, tidak menyoal ide petisi pilkada bersih dari kalangan gereja. Baginya, yang terpenting ialah gerakan yang dibangun ini untuk kepentingan bersama.

Menurutnya, Tanah Karo sangat membutuhkan gerakan seperti ini karena setiap pelaksanaan pemilihan, mulai kepala desa, pemilu, hingga pilkada, sangat marak terjadinya politik uang. (Yoseph Pencawan/N-1)