Rumah Sakit di Paris Tertekan Akibat Covid-19

 

RUMAH Sakit di Paris telah mendekati kondisi kritis seiring meningkatnya jumlah pasien covid-19 dan kemungkinan akan mulai menolak pasien. Hal itu diungkapkan seorang pejabat teras rumah sakit di ibu kota Prancis itu, Minggu (28/3).

"Ada kemarahan karena kami berada dalam situasi yang memaksa Anda menjalankan kebijakan kesehatan bencana," ujar seorang pejabat senior rumah sakit Paris Remi Salomon.

"Dalam 10 hari, 15 hari, atau tiga pekan ke depan, kami akan kewalahan," imbuhnya dalam wawancara dengan BFMTV, sembari meminta pemerintah menerapkan lockdown baru, termasuk untuk sekolah-sekolah.

Baca juga: 400 Juta Vaksin Johnson & Johnson Bakal Dipasok ke Uni Afrika

Pada Minggu (28/3), sebanyak 41 direktur rumah sakit di Paris mengirimkan surat terbuka yang berbunyi, "Kami tidak bisa tinggal diam tampa melanggar sumpah Hipokrates yang pernah kami ucapkan."

Diterbitkan dalam jurnal mingguan Journal du Dimanche, surat terbuka itu mengatakan mereka tengah bersiap untuk memilih pasien mana yang bisa masuk ke ruang perawatan intensif.

"Keputusan itu akan menyangkut seluruh pasien, covid-19 dan non-covid-19, terutama pasien dewasa yang membutuhkan perawatan kritis," tulis mereka.

Para direktur rumah sakit itu mengatakan mereka tidak pernah melihat situasi seperti ini bahkan saat terjadi serangan teror di Prancis.

Mereka menggarisbawahi bahwa hal itu telah dimulai dengan rumah sakit terpaksa menunda prosedur operasi.

"Pembatalan itu akan semakin parah dalam beberapa hari ke depan, dengan hanya prosedur darurat yang bisa dijalankan," tegas mereka.

Sebelumnya, dalam surat kabar Le Monde, sembilan dokter UGD meminta pemerintah lebih bertanggung jawab terkait krisis covid-19.

"Memaksa dokter memilih pasien mana yang bisa diselamatkan dan mana yang harus mati, tanpa memberikan penjelasan, pemerintah melepaskan tanggung jawab dengan cara yang munafik. Telah tiba saatnya eksekutif dengan jelas dan terbuka mengambil tanggung jawab atas keputusan politik mereka," seru kesembilan dokter itu. (AFP/OL-1)