Salam

SALAM. Istilah salam sudah sangat melekat maknanya di kalangan masyarakat kita. Dari kecil kita diajari arti salam oleh orangtua kita, baik berupa ucapan maupun perbuatan atau tindakan yang menyimbolkan makna salam itu.

Dalam tiap agama pun terdapat ungkapan salam yang ditujukan untuk doa kepada sesama. Dalam Islam, kita mengenal ucapan assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, ‘Semoga Allah melimpahkan keselamatan, rahmat, dan keberkahan untukmu’. Di Kristen Protestan dan Katolik, dikenal ucapan shalom atau ‘salam sejahtera’. Om swastiastu untuk penganut agama Hindu, artinya ‘Semoga Sang Hyang Widhi mencurahkan kebaikan dan kebahagiaan’. Di kalangan umat Buddha, dikenal salam namo Buddhaya yang artinya ‘terpujilah Buddha’. Adapun ‘salam kebajikan’ ialah salam yang biasa diucapkan penganut Konghuchu.

Akan tetapi, khusus istilah namo Buddhaya, dalam blog kumpulan artikel buddhis bernama Samanaputta.blogspot.com, disebutkan bahwa istilah namo Buddhaya sebenarnya bukanlah kalimat yang mengandung unsur sapaan. Istilah tersebut ialah doa yang biasa digunakan sebelum memulai aktivitas keagamaan. Untuk pengucapan salam kepada sesama, disarankan menggunakan kalimat sotthi hotu yang berarti ‘Semoga Anda sejahtera’.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), definisi salam terbagi menjadi dua, dalam bentuk arti dan dalam bentuk ungkapannya. Secara arti, salam adalah ‘damai’. Secara bentuk, salam diartikan sebagai ‘pernyataan hormat; tabik’ dan ‘ucapan assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh’.

Ada pula istilah ‘salam damai’. Pada awalnya saya menganggap istilah ini rancu mengingat kata salam itu sudah berarti ‘damai’. Akan tetapi, setelah ditelusuri lebih dalam, ternyata istilah itu juga merupakan sebuah ungkapan untuk gerakan bersalaman di antara jemaat gereja dalam acara kerohanian.

Memang pada umumnya salam itu bisa berupa ucapan dan bisa berupa perbuatan atau gerakan tertentu. Misalnya, dalam KBBI, ada istilah salam tempel yang artinya bukanlah sebuah salam, melainkan istilah untuk gerakan bersalaman yang sekaligus menempelkan uang atau amplop berisi uang kepada orang yang disalami.

Di awal masa kemerdekaan, Presiden Pertama Republik Indonesia Soekarno juga pernah memperkenalkan sebuah salam yang disebutnya dengan ucapan ‘salam kebangsaan’. Salam itu merupakan paduan gerakan dan ucapan. Dimulai dengan tangan kanan kita diangkat setinggi telinga, kelima jari dibuka rapat dan kita mengucapkan ‘Salam Pancasila’. Salam itu kemudian dilanjutkan dengan kelima jari dikepal, kemudian bersama- sama kita berteriak lantang ’Merdeka’.

Akan tetapi, kini banyak orang, terutama para pejabat, yang memproduksi istilah salam secara bebas tanpa memikirkan apa makna dan bagaimana gerakan atau cara mengungkapkannya. Ungkapan salam yang awalnya berupa ucapan doa kini makin melebar entah ke dalam makna yang seperti apa. Misalnya ada istilah salam olahraga, salam super, salam tangguh, salam kemanusiaan, dan salam sukses. Selain kosong ungkapan, ucapan salam itu tidak memiliki gerakan khusus yang mewakili salam tersebut sehingga kita jadi meraba apa maksud dari istilah salam seperti itu.

Saya menduga ucapan salam tersebut muncul dari sebuah kesalahan diksi akibat kurangnya memahami suatu kata. Saya melihat ungkapan salam tadi lebih tepat menjadi sebuah ajakan atau pesan atas kata yang mengikuti kata sukses tadi. Seandainya kata sukses itu diubah menjadi tetap atau selalu, maknanya tentu menjadi lebih jernih untuk dipahami menjadi suatu ajakan untuk selalu berolahraga, selalu super, tetap tangguh, tetap berkemanusiaan, atau selalu sukses.