Sastra Digital bukan Dosa

Kini, setiap orang terhubung satu sama lain melalui jejaring internet. Platform digital pun tumbuh seiring dengan kemudahan akses pada teknologi tersebut. Dengan modal kuota dan gadget, setiap orang bisa masuk dalam lingkar digital.

Data dari Asosiasi Penyedia Jasa Layanan Internet Indonesia (APJII) mencatat penetrasi pengguna internet 2019-2020 (Q2) mencapai 73,7% atau 196,71 juta jiwa dari 266,91 juta jiwa penduduk. Angka itu naik dari 68,8% di 2018 pada total penduduk 264,16 juta jiwa. Sebanyak 19,5% pengguna menghabiskan waktu penggunaan 8 jam lebih setiap hari.

Hal itu pun berdampak pada perilaku penikmat dan pembaca karya sastra. Setiap orang bisa dengan gampang mengakses karya sastra. Sebaliknya, penyair atau sastrawan juga lebih mudah dalam memublikasikan karya mereka. Tidak lagi mengandalkan kertas seperti surat kabar maupun buku. Platform self publishing online nulisbuku.com yang didirikan pada 2010 merupakan salah satu ruang penyedia sastra digital.

Pendiri platform ini, Brilliant Yotenega, mengungkapkan konsep nulisbuku.com masih berpadu antara platfrom digital dan cetak. Penulis cukup mengunggah karya pada platform tersebut. Pembaca yang tertarik pada buku lalu memesan buku. Jumlah buku yang dicetak pun sesuai jumlah pesanan meski hanya satu pemesan.

Hal itu didasarkan pada pengetahuan Yotenega pada cara kerja penerbitan buku mandiri. Lagi pula, saat itu, media sosial Twitter sedang naik daun. Selain itu, adanya perangkat pendukung seperti mesin cetak satuan. Pada 2005 mesin cetak satuan diciptakan. Saat itu masih digunakan sebagai pengecekan (profprint) sebelum cetak dalam jumlah massal.

"Karena saya tahu teknologinya dan tahu bahwa ada mesin yang bisa mencetak on demand. Makanya nulisbuku.com adalah layanan online penerbitan mandiri secara pay on demand sehingga penulis dapat menerbitkan bukunya dengan cepat, mudah, dan gratis. Jadi sebenarnya penulis tidak ada biaya untuk menerbitkan buku di sini," terang pria yang akrab disapa Ega itu dalam sebuah diskusi daring belum lama ini.

Menurut Ega, penerbitan konvensional berkutat pada beberapa masalah. Pihak penerbit berhadapan dengan laba rendah dengan margin sekitar 15%. Mereka juga susah menentukan dan memprediksi buku kategori best seller. Di sisi lain, penulis juga menghadapi problem yang sama, yakni penghasilan rendah dengan royalti hanya 10%. Penulis harus mengalami waktu tunggu yang lumayan lama pula sebelum bukunya bisa dicetak, sekitar 6-12 bulan. Adapun dari sisi pembaca menjumpai kesulitan untuk mengakses bahan bacaan dan minim variasi.

Selain nulisbuku.com, Ega juga mendirikan storial.co pada 2015. Platform digital itu sepenuhnya daring. Ega mempertimbangkan faktor interaktif antara penulis dan pembaca yang tidak didapati dalam platform sebelumnya. "Platform sebenarnya yang digital harus ada di situ. Penulisnya ada di situ sehingga penulis dan pembaca bertemu langsung," jelasnya.

Ega lalu mengembangkan storial.co dengan fitur premium pada 2018. Fitur itu, menurutnya, memungkinkan penulis memublikasikan karyanya per bab dan bisa dimonetifikasi. Hal itu pun berdampak pada penghasilan penulis.

 

Kualitas karya

Di balik kemudahan itu, ada pula kekhawatiran terkait kualitas karya yang dihasilkan. Kualitas sastra ditakutkan menurun seiring dengan kemudahan akses karya sastra di media sosial dan minimnya telaah kritis atas karya.

Anggapan itu ternyata tak sepenuhnya benar. Menurut kritikus sastra Dewi Anggraeni, platform digital juga memberi ruang untuk kritik sastra. Oleh sebab itu, menurut dia, tidak relevan lagi mempertentangkan platform daring dan luring. "Sebenarnya ranah digital itu juga memberikan ruang bagi mereka yang ingin berkontribusi dalam bentuk pembahasan kritis karya sastra," ujar Dewi.

Dewi menggarisbawahi telaah kritis tidak hanya muncul dalam esai kritis atau tulisan ilmiah akademis, tetapi juga dalam bentuk ulasan. Yang penting, ada pembahasan karya dari perspektif tertentu dan ada argumentasi yang dibuktikan dari isi karya. Jadi tidak sekadar sinopsis. "Sebenarnya apabila memenuhi dua unsur, itu bisa dibilang karya tersebut sudah melakukan pembahasan karya secara kritis," tandasnya.

Senior Editor Gagas Media Ry Azzura mengungkap platform digital sebagai jalan bagi orang yang hendak jadi penulis. Platform digital juga membangun loyalitas pembaca. Selain itu, karier penulis tidak hanya menulis buku, bisa juga menjadi penulis cerita untuk kebutuhan lain seperti film ataupun konten media sosial.

Menurutnya, remaja cenderung membaca buku dari karya penulis ternama atau berdasarkan rekomendasi teman. Oleh sebab itu, ia bergerilya di dunia digital untuk mencari penulis baru. Biasanya penulis di media sosial sudah mempunyai basis pembaca tersendiri.

Penulis di platform digital juga menjanjikan sesuatu yang susah didapat dari platform konvensional, yakni mendekatkan penulis dengan pembaca dan interaktif. Tidak butuh waktu lama bagi seorang penulis untuk memperoleh umpan balik dari pembaca di platform digital.

"Mungkin ada yang bilang receh banget sih editannya atau terbitannya. Nggak, tiap orang kemampuan bacanya berkembang. Saya dulu juga cuma baca komik, terus lama-lama bosan, lama-lama meningkatkan lagi bacaannya," ucap Ry.

Penyair pun bersiasat di tengah perkembangan zaman. Joko Pinurbo, misalnya, sejak awal tahun 2000-an sudah ikut mengalami.

"Saya melihat pengarang Indonesia itu sangat mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman," ucap pria yang akrab disapa Jokpin ini.

Baginya, media sosial berperan besar terhadap kepenyairannya. Ia pernah mengalami zaman ketika media untuk publikasi sangat terbatas. Saat itu sangat tidak mungkin untuk para pengarang muda jika hendak menerbitkan buku.

"Saya ingin cerita bahwa bagaimanapun saya harus bersyukur dengan perkembangan teknologi digital karena itu juga yang membesarkan saya sebagai penulis puisi," ucap Jokpin.

Menurutnya, akun media sosial bisa memiliki fungsi ganda. Pertama, untuk membaca apa yang sedang menjadi tren dari manusia Indonesia hari ini, terutama generasi muda. Kedua, media digital juga sebagai media publikasi karya.

"Lewat akun Twitter itulah saya bisa membaca situasi. Saya bisa meraba-raba kira-kira psikologi manusia Indonesia saat ini seperti apa," ujar Jokpin yang mulai ber-Twitter pada 2012.

Ia lalu kepikiran menggunakan Twitter untuk mengunggah kalimat atau kata yang awalnya tidak dimaksudkan sungguh-sungguh sebagai puisi. Ternyata responsnya luar biasa, melebihi respons terhadap buku puisi yang diterbitkan.

"Jadi jumlah pembaca postingan-postingan saya di Twitter, ya sebutlah puisi-puisi ringkas di Twitter itu, lebih banyak daripada pembaca apalagi pembeli buku puisi saya," ujarnya.

Ia pun mulai menyadari karyanya semakin dikenal atas jasa Twitter. Banyak orang sering mengutip puisinya karena membaca unggahan di platform tersebut. Mereka penasaran lalu mencari buku karya Jokpin.

Alhasil, sejak 2016 hingga sekarang, Jokpin merasakan royalti secara nyata, bukan hanya istilah yang hanya ada di kamus. Hal itu karena promosi yang dilakukan oleh tangan-tangan tak terlihat-tak dikenal melalui media digital. "Jadi saya mendapatkan berkah, jasa dari media digital, paling tidak secara ekonomi," tandasnya. (M-4)