Satu Tahun Pandemi Covid-19

SATU tahun sudah pandemi covid-19 ditetapkan. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan status pandemi pada 11 Maret 2020 setelah kasus yang pertama kali terjadi di Wuhan, Tiongkok, menyebar ke 110 negara. Inilah status pandemi kedua yang terjadi setelah lebih satu abad sebelumnya dunia dilanda flu spanyol.

Bukan hanya Indonesia yang dilanda ketidakpahaman bagaimana cara menangani virus yang menular begitu cepat saat kasus pertama muncul pada 2 Maret. Semua negara di dunia dihadapkan kepada kebingungan dan ketidaktahuan menghadapi covid-19. Presiden Joko Widodo merespons kegentingan itu dengan membentuk Gugus Tugas Penanganan Covid-19 pada 13 Maret 2020.

Sampai sekarang penyebab munculnya virus korona masih misteri. WHO Februari lalu mengirimkan tim khusus untuk melakukan penelitian tentang virus yang telah menyebabkan sekitar 2,5 juta penduduk dunia meninggal dunia. Selama empat pekan tim yang dipimpin Peter Ben Embarek berada di Wuhan untuk melacak asal muasal penyakit yang menyebabkan pandemi ini. Hasil investigasi WHO tidak bisa menentukan secara pasti dari mana virus itu berasal. Mereka hanya memastikan tuduhan AS bahwa covid-19 berasal dari kebocoran yang terjadi pada sebuah laboratorium di Wuhan tidak benar. Dugaannya, virus dibawa kelelawar yang menjadi carrier.

Masih teringat ketika 17 Maret 2020 saya diminta Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Doni Monardo untuk membantu penanganan komunikasi publik. Di tengah ketidakjelasan tentang karakteristik virus korona yang mulai berjangkit di Indonesia, Gugus Tugas harus memberikan edukasi kepada masyarakat. Langkah pertama yang diambil ketika itu ialah meminta Doni Monardo tampil di depan publik guna menjelaskan tantangan yang sedang kita hadapi dan peran serta yang harus dilakukan masyarakat. Dari hasil diskusi, disepakati lima hal yang perlu disampaikan kepada masyarakat; pertama, jaga jarak ketika bertemu; kedua, hindari kerumunan; ketiga, di rumah saja; keempat, cuci tangan dengan sabun; dan kelima, pakai masker.

Ketika rekaman sedang berlangsung di lobi Gedung Badan Nasional Penanggulangan Bencana, seorang pejabat dari Unicef yang sedang berada di BNPB dan menyaksikan rekaman tersebut tiba-tiba meminta agar ajakan kelima tidak disampaikan. Alasannya, masker hanya untuk mereka yang sakit.

Kalau melihat kembali rekaman pernyataan para pejabat di Singapura pun pada Februari 2020, masker memang tidak disarankan untuk dipergunakan. Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong pun dalam wawancara dengan wartawan menyampaikan masyarakat tidak perlu menggunakan masker. Atas dasar itulah Ketua Gugus Tugas terpaksa mengulang lagi rekamannya. Poin nomor lima dari iklan layanan masyarakat yang dibuat tidak menyebutkan keharusan untuk menggunakan masker.

Baru beberapa bulan kemudian disadari, masker justru merupakan salah satu yang wajib digunakan untuk mencegah penularan. Ternyata penularan covid-19 yang berlangsung begitu cepat disebabkan aerosol yang keluar dari mulut dari mereka yang terinfeksi. Celakanya, banyak yang terinfeksi covid-19 tidak menunjukkan gejala apa-apa atau asimptomatik. Gugus Tugas harus mengampanyekan agar masyarakat selalu menggunakan masker.

 

Kesehatan atau ekonomi

Selama satu tahun semua negara lebih banyak melakukan trial and error. Sayangnya, error yang terjadi harus dibayar mahal. Terutama kepada mereka yang memiliki penyakit penyerta–khususnya diabetes dan darah tinggi–akibatnya sangat fatal. Semua negara juga dihadapkan kepada pilihan mendahulukan ekonomi atau kesehatan. Indonesia mengambil jalan untuk tidak memilih salah satu di antara itu. Pilihan Indonesia menjaga masyarakat agar tidak terpapar oleh covid-19, tetapi secara bersamaan jangan sampai terkapar oleh tekanan ekonomi.

Pilihan itu menyelamatkan Indonesia tidak sampai menimbulkan rasa frustrasi di tengah masyarakat. Banyak negara yang memilih salah satu di antaranya akhirnya harus menghadapi kondisi yang chaotic. Satu yang membangunkan harapan, semua negara akhirnya belajar dan mulai paham bagaimana cara menangani covid-19. Para dokter pun tidak seperti di awal covid-19 yang dihinggapi dengan kekhawatiran dan ketidakpahaman, sekarang ini lebih siap menangani pasien covid-19.

Laporan utama The New York Times Jumat (5/3) lalu menunjukkan periode terburuk covid-19 sepertinya sudah terlewati. Apabila pertengahan Januari lalu jumlah kasus baru di dunia dalam satu hari bisa mencapai 750 ribu orang, saat ini sudah turun sekitar 50%. Para peneliti bekerja sangat keras untuk menemukan vaksin. Perusahaan farmasi pun bekerja cepat untuk melakukan produksi massal guna memenuhi kebutuhan lebih dari 7 miliar penduduk dunia. Para pemimpin negara pun lebih tegas mengambil keputusan.

Semua negara mulai mempercepat upaya vaksinasi agar fatalitas bisa ditekan serendah mungkin. Memang vaksinasi disadari tidak akan mengeradikasi covid-19. Yang sudah mendapatkan vaksinasi bukan berarti tak bisa tertular atau menulari orang lain. Namun, vaksinasi diyakini menjadi game changer yang bisa membuat dunia mengakhiri masa hibernasi setelah satu tahun semua kegiatan nyaris terhenti. Protokol kesehatan menjadi sebuah keharusan yang dijalani setiap orang. Di masa yang baru ini, orang harus peduli kepada sesama. Kita harus menggunakan masker dan tidak menciptakan kerumunan besar agar bisa melindungi sesama.

 

Penyakit masa depan

Semua bangsa di dunia kini mencoba memetik pelajaran dari pengalaman pandemi covid-19. Bagaimana dunia bekerja sama ketika satu saat nanti pandemi kembali terjadi. Apabila dari pandemi flu spanyol ke covid-19 dibutuhkan waktu satu abad, ke depan diyakini pandemi akan datang lebih cepat.

Disease of tomorrow merupakan sebuah keniscayaan. Fareed Zakaria dalam buku terbarunya, Ten Lessons for a Post-Pandemic World, menuliskan ketidakseimbangan alam dan pemanasan global merupakan faktor-faktor yang bisa memicu munculnya penyakit-penyakit baru. Ketidaksiapan dunia untuk mengantisipasi penyakit yang akan datang bisa menimbulkan kepanikan seperti kita alami setahun terakhir ini.

Temasek Foundation pada Januari lalu secara khusus membahas masalah ini. Sebagai salah satu panelis, saya berpandangan perlunya negara-negara ASEAN memikirkan bagaimana respons bersama yang harus diambil apabila terjadi situasi kedaruratan. Pengalaman covid-19 mengajarkan, ketika pandemi terjadi, semua negara dihadapkan kepada keterbatasan. Mulai masker hingga pakaian pelindung diri bagi tenaga kesehatan pun tidak mencukupi jumlahnya. Sekarang pun ketika semua negara membutuhkan vaksin, setiap negara harus berjuang sendiri-sendiri.

Ketika pandemi dihadapi dengan kepanikan, setiap negara cenderung menyelamatkan diri sendiri. Inggris dan Uni Eropa sampai harus berseteru ketika pasokan vaksin dianggap tidak adil dan lebih berorientasi kepada kepentingan bisnis semata. Pembentukan lembaga riset bersama menjadi sebuah kebutuhan. Dengan kehadiran lembaga itu, dunia tidak hanya bisa berbagi informasi, tetapi juga bisa melakukan antisipasi. Bahkan bisa dirumuskan langkah bersama untuk menyelamatkan kehidupan semua orang yang tinggal di kawasan ASEAN.

Para pemimpin negara ASEAN dalam Konferensi Tingkat Tinggi November 2020 menyepakati dibentuknya ASEAN Center for Public Health Emergencies and Emerging Diseases (ACPHEED). Indonesia, Thailand, dan Vietnam mengajukan diri sebagai tuan rumah. Presiden Joko Widodo sudah menyampaikan usul kepada seluruh pemimpin ASEAN mengenai kesiapan Indonesia menjadi tuan rumah ACPHEED. Bahkan lokasi untuk lembaga riset yang akan menjadi andalan bangsa-bangsa ASEAN kelak dibangun di Tangerang, serta pendanaan untuk lima tahun pertama ditanggung Indonesia.

Dalam penanganan covid-19, Indonesia dinilai mengambil keputusan yang cepat dan tepat. Indonesia merupakan negara ASEAN pertama yang sejak Juli aktif menggalang kerja sama internasional bagi pengembangan vaksin covid-19. Indonesia menjadi bagian dari uji coba vaksin Sinovac sehingga tidak mengherankan mendapat pasokan lebih awal dari Tiongkok dan sekarang sudah secara massal menjalankan vaksinasi.

Memang dengan jumlah penduduk lebih dari 180 juta yang harus divaksinasi, Indonesia harus bergerak cepat. Bahkan pemerintah kini sudah menetapkan digunakannya vaksin gotong royong agar lebih cepat terbentuk herd immunity di tengah masyarakat. Apabila kita juga bisa lebih cepat menerapkan digital tracing untuk mengendalikan penularan, Indonesia akan lebih baik mengendalikan wabah covid-19. Jangan sampai vaksinasi yang sekarang gencar dilakukan kalah cepat dengan penularan yang terjadi. Upaya untuk terus menekan positivity rate penularan kasus di bawah 5% harus juga menjadi target.