Selamat Datang, Ya Ramadan

IBARAT sebuah kapal, Ramadan sebentar lagi berlabuh di dalam sanubari kita yang sudah lama menyiapkannya. Merekalah yang akan mendapatkan berkah Bulan Suci Ramadan.

Tidak mustahil di antara mereka menjumpai keutamaan Lailah al-Qadr. Bulan yang sudah lama kita tunggu insya Allah akhirnya besok akan tiba. Semoga kita semua berjumpa Ramadan besok sesuai doa yang diajarkan Nabi: Allahumma balligna Ramadhan (Ya Allah pertemukanlah kami dengan bulan Ramadan).

Ramadan berarti membakar, menghanguskan. Pada Ramadan kali ini kita bermohon kepada Allah SWT agar Ramadan tidak hanya membakar dosa masa lampau, tetapi juga membersihkan warga bangsa tercinta dari virus covid-19 dari bumi Indonesia dan dunia.

Termasuk persiapan dalam menjemput Ramadan ialah peningkatan ibadah-ibadah sosial seperti bersilaturahim dengan orang-orang yang telah berjasa di dalam hidup kita, menziarahi makam mereka yang sudah mendahului kita, mengunjungi kelompok masyarakat yang membutuhkan bantuan, seperti panti asuhan, pantai jompo, dan kelompok masyarakat marginal lainnya. Ibadah-ibadah sosial tidak kalah dengan ibadah sebagaimana disebutkan di atas.

Kita bisa merasakan dan perbandingkan Ramadan yang diawali persiapan lebih panjang dengan Ramadan yang dimasuki tanpa persiapan panjang. Dampak psikologis dan spiritualnya dapat dirasakan lebih kuat dan lebih syahdu menjalani Ramadan yang diawali persiapan panjang dari pada persiapan lebih pendek.

Pada bulan Rajab atau Sya'ban mestinya kita sudah mulai membentangkan karpet merah untuk Ramadan.

Keutamaan Ramadan tidak perlu dipertanyakan. Banyak sekali ayat dan hadis yang menyatakan keistimewaannya. Dari segi namanya saja, Ramadan berarti menghanguskan, yakni membakar hangus dosa-dosa masa lampau yang pernah kita lakukan. Banyak sekali amalan khusus yang hanya bisa dilakukan selama Ramadan, seperti salat sunat tarwih, puasa Ramadan, amalan-amalan dijanjikan berlipat ganda, dan zakat fitrah, di samping zakat mal.

Di antara sejarah monumental itu ialah:
1. Pertama kali turunnya ayat suci Alquran dan sekaligus menandai pelantikan Muhammad SAW sebagai nabi.
2. Kemenangan besar pasukan Rasulullah di dalam Perang Badar yang bertepatan 17 Maret 624 M/17 Ramadan 7 H.
3. Perebutan kembali Kota Mekah (fathu Makkah), Ramadan 8 H.
4. Perjanjian Tsaqif yang monumental itu terjadi pada Ramadan 9 H.
5. Diplomasi Qadasiayah yang membawa keuntungan besar bagi umat Islam terjadi pada Ramadan 15 H.
6. Penaklukan Rodesia, Ramadan 53 H.
7. Perang Andalusia Spanyol, Ramadan 91 H.
8. Penaklukan Spanyol, Ramadan 92 H.
9. Runtuhnya Daulat Bani Umayyah yang dinilai banyak korup digantikan rezim baru Bani Abbasiyah, Ramadan 132 H.
10. Pemisahan diri Mesir dari Dinasti Abbasiyah, Ramadan 253 H.
11. Pendirian Universitas Al-Azhar, Kairo, universitas tertua di dunia didirikan pada Ramadan 361 H oleh Dinasti Fatimiyah (Syi’ah).
12. Salahuddin al-Ayyubi menghalau pasukan Salib dan merebut Kota Surya, Ramadan 584 H.
13. Pasukan Salib dikalahkan di Baibars, Ramadan 675 H.
14. Beberapa negara Islam memperoleh kemerdekaan dari penjajah dalam Ramadan termasuk Republik Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya dalam Ramadan yang bertepatan dengan 17 Agustus 1945.
15. Sejumlah pusat kerajaan lokal di kepulauan Nusantara menyerah kepada sistem pemerintahan yang bercorak Islam (sultan) termasuk di antaranya Kerajaan Bone Sulawesi Selatan, kerajaan terakhir di kawasan timur Indonesia menyerah ke pemerintahan baru bercorak Islam.

Peristiwa demi peristiwa yang menakjubkan di atas tentu bukan hanya terjadi di masa lampau, melainkan juga akan terjadi pada diri kita terutama yang meyakini puasa sebagai bagian dari rahmat dan hidayah Allah SWT.

Rasulullah SAW menunjukkan banyak hikmah di balik puasa, termasuk di antaranya memelihara kesehatan sebagaimana dalam hadisnya: Shumu tashihhu (berpuasalah kalian supaya sehat). Para dokter juga melihat kebenaran pernyataan Rasulullah tersebut.

Ini membuktikan setiap perintah Tuhan pasti mempunyai hikmah positif bagi manusia. Tidak mungkin Allah SWT menurunkan suatu kewajiban di luar ambang batas kemampuan hamba-Nya.