Sentimen Global Kerek IHSG

 

DIREKTUR PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee optimistis indeks harga saham gabungan (IHSG) mampu berakhir pada level 6.100 pada akhir tahun ini. Berbagai sentimen dari global dinilai mendukung pergerakan positif untuk bursa berbagai negara, termasuk Indonesia.

Pertama, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengonfirmasi vaksin terkini masih ampuh untuk menangani virus korona yang bermutasi. Direktur Eksekutif BioNTech Jerman Ugur Sahin mengatakan vaksin yang dikembangkan bersama Pfizer Amerika Serikat akan tetap bisa bekerja menghadapi jenis baru virus ini.

Di Indonesia, Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro juga memperkirakan mutasi virus ini tidak akan berdampak buruk pada efektivitas vaksin yang tengah dikembangkan banyak produsen di dunia. “Sehingga ini akan meredam kekhawatiran pasar yang terjadi di berbagai negara,” kata Hans saat dihubungi, kemarin.

Kemudian, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menunda pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Stimulus Darurat Virus Korona (Covid-19), yang mencakup bantuan sebesar US$892 miliar atau sekitar Rp12,755 triliun (kurs Rp14.300) yang akan disalurkan dalam bentuk tunjangan pengangguran.

Trump dilaporkan akan menggunakan hak vetonya untuk membatalkan RUU tersebut meski sudah disetujui Kongres. Namun, Hans melihat Trump sepertinya tidak akan bertindak lebih jauh karena masa kongres pun hanya kurang dari 10 hari. Masa jabatan Trump berakhir tidak lama lagi dan Joe Biden akan mengambil alih.

Dari progres uji klinis vaksin, hasil uji klinis Sinovac di Turki memberi hasil efektivitas 91,25%. Ini bisa menjadi sumber optimisme bagi pengguna vaksin Sinovac di negara lain, termasuk Brasil dan Indonesia.

Sementara itu, pembatasan sosial yang diberlakukan pemerintah daerah jelang libur Natal dan Tahun Baru sepertinya tidak berdampak signifikan terhadap appetite pasar. Masyarakat tampak menjalani kegiatannya dengan tingkat keramaian yang sama.

“Sehingga saya melihat IHSG meski hanya dalam tiga hari perdagangan besok (Senin, 28/12), akan mampu mengejar ke 6.100. Kisar­an saya seperti di 5.800-6.000 dan resistance di 6.000-6200,” kata Hans.

Window dressing pun sepertinya tidak lagi banyak terjadi, kemungkinan hanya pada saham bluechip BUMN, seperti semen, bank-bank, dan perusahaan telekomunikasi. Mereka masih berpotensi apresiasi lagi.

Memang jika dihitung, reli IHSG sejak awal Desember telah lebih dari 8%. Dengan demikian, penguatan IHSG menjelang akhir tahun berpotensi terbatas, tapi tidak tertutup kemungkinan bisa kembali ke level 6.100.

Punya peluang

Dihubungi terpisah, Kepala Riset Samuel Sekuritas Indonesia Suria Dharma pun yakin IHSG masih punya peluang ditutup di atas level 6000 di akhir tahun. “IHSG kemarin naiknya terlalu cepat. Jadi bila ada koreksi normal-normal saja. Apalagi mau akhir pekan panjang minggu lalu,” kata Suria.

Untuk rupiah dia perkirakan akan tetap stabil di level 14.200-an. Walau sebenarnya USD index atau indeks dolar memiliki kecenderungan melemah, bahkan sempat di bawah 90, ketidakpastian ekonomi mulai redam dan wujud stimulus mulai terlihat sehingga bisa saja rupiah kembali menguat. “Setidaknya rupiah tidak akan melemah seharusnya,” kata Suria.

Pendapat senada diungkapkan analis Binaartha Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta Utama. Dia mengatakan setelah ditutup terkoreksi 0,24% di level 6.008,71, pada pekan lalu, berdasarkan rasio teknikal, pergerakan support maupun resistance index berada pada level 5.874,89 hingga 6.157,11. (E-3)