Shahnaz Haque Mengawali dengan Penuh Syukur

 

FAJAR pertama tahun 1442 Hijriah dalam penanggalan Islam pada 1 Muharam yang jatuh pada Kamis, 20 Agustus 2020, begitu bermakna bagi selebritas yang juga penyintas kanker Shahnaz Haque, 47.

Sederet doa dan harapan-harapan baik di tahun mendatang diutarakannya dalam memulai kehidupan di tahun yang baru ini. “Semoga lebih sehat, sukses, sejahtera, dari tahun sebelumnya. Aamiin Yaa Robbal’ Aalamiin,” tulis istri drummer Gilang Ramadhan itu di akun Instagram miliknya, Kamis (20/8).

Di awal yang baru ini, Shahnaz mematri semangat baru untuk mendapatkan 1 tahun kebahagiaan, 12 bulan kedamaian, 365 hari  kegembiraan, 8.760 jam kasih sayang, 525.600 menit cinta dan persahabatan.

Menurutnya, dalam memaknai tahun baru Hijriah, pemahaman setiap orang tentu berbeda sebab apa yang dialami dalam mengarungi kehidupan ini tidak sama.

“Tahun Baru Islam, bagi setiap orang terhadap hidupnya, tentu tidak sama satu sama lain, karena situasi perjalanan jiwa yang berbeda-beda. Namun, yang pasti, berbakti kepada Sang Pencipta ialah hal yang tidak bisa kita abaikan. Seburuk apa pun rupa ataupun kondisi hidup kita, kesempatan hidup tetap layak dan harus dihormati,” tutur anak bungsu dari pasangan Allen dan Mieke Haque itu.

Sebagaimana diketahui, Shahnaz ialah seorang penyintas kanker ovarium. Dia menjalani operasi pada tahun 1999 dan mulai aktif terlibat dalam kegiatan yang berhubungan dengan kanker.

Keluarganya memiliki riwayat kanker yang kuat. Ibu dan neneknya meninggal dunia karena kanker. Kedua mertuanya juga meninggal karena kanker prostat dan kanker payudara. Shahnaz berjuang untuk sembuh dan tetap sehat demi suami dan anak-anaknya. Karena itu, ia sangat menyukuri anugerah kehidupan yang diberikan Sang Pencipta. “Terima kasih Allah, masih diberikan kesempatan hidup sampai merayakan tahun 1442 Hijriah,” ujar ibu dari tiga anak itu.

Kuat

Satu tahun kemarin telah berlalu dan mengajarkannya ketenangan dan kesabaran. Dalam melangkah di tahun baru ini, Shahnaz bertekad tidak mau larut dalam perasaan negatif seperti sakit hati, benci, iri hati, marah, kecewa, dan sedih.

Pahitnya perjalanan hidup, kata Shahnaz, telah meninggalkan pembelajaran yang mahal tentang luhurnya nilai berbakti kepada Allah SWT, Sang Pemberi Kehidupan.

“Sekiranya dia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku.  Sekiranya dia mengingat-Ku di khalayak ramai, maka Aku akan mengingatnya di depan khalayak ramai yang lebih mulia (para malaikat dan nabi-nabi). Jika hamba-Ku mendekati-Ku sejengkal, Aku akan mendekatinya sehasta. Jika hamba-Ku mendekati-Ku sehasta, Aku akan mendekatinya sedepa. Jika hamba-Ku mendekati-Ku dalam keadaan berjalan, Aku akan mendekati-Nya dalam keadaan berlari (cepat).” Demikian bunyi salah satu hadis
riwayat Bukhari dan Muslim yang terpatri di benak Shahnaz.

Ia juga mengutip sabda Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa, “Di antara perbendaharaan kebajikan adalah menyembunyikan sedekah, menyembunyikan sakit dan musibah. Dan barang siapa yang menyiarkan keluhannya, maka sesungguhnya ia belum bersabar.”

Selain sabar, memaafkan ialah nilai kehidupan lain yang dipegang Shahnaz. Menyitir omongan tokoh dunia Mahatma Gandhi, sikap memaafkan orang yang pernah bersalah pada kita ialah sikap yang dimiliki oleh orang-orang yang berkarakter kuat.

“Banggalah kepada diri, bila mampu memaafkan orang lain karena memaafkan ialah tindakan orang kuat. Orang yang lemah tidak mampu memaafkan. Memaafkan ialah ciri orang yang kuat,” tulis Shahnaz pada kesempatan berbeda. (H-2)