Simpati Mengalir Deras ke Majene

 

HARI pertama gempa Majene, Sulawesi Barat, nasib warga terdampak menjadi perhatian lembaga pemerintah. Kemarin, Kementerian Sosial langsung mengirim bantuan senilai Rp1,7 miliar.

“Kami mengirim bantuan logistik tanggap darurat, bantuan logistik gudang, dan santunan ahli waris. Bantuan berupa makanan siap saji, makanan anak, tenda gulung, matras, peralatan keluarga, tenda serbaguna, dan kebutuhan lain,” ungkap Direktur Perlindungan Sosial Korban Bencana Alam, M Safii Nasution, yang ikut mengawal bantuan menggunakan pesawat Hercules milik TNI-AU.

Kementerian Sosial juga mengerahkan personel Ta­runa Siaga Bencana (Tagana) dari Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah. Mereka akan membuka dapur umum dan memberikan layanan dukungan psikososial.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan juga mengirim makanan dan minuman. Namun, karena jalan darat sulit ditempuh, pengiriman dilakukan kapal perang milik Lantamal VI Makassar.

Komandan Lantamal Laksamana Pertama Benny Sukandari mengaku mengerahkan kapal perang Mamuju II-6-64 untuk membawa bantuan. “Nanti akan disusul KRI Teluk Ende supaya bisa bergerak cepat. Selain bantuan material, juga dikirimkan bantuan personel untuk membantu evakuasi korban.”

Gubernur Nurdin Abdullah menambahkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sulawesi Selatan bersiap mengirim alat berat dan perlengkapan lain untuk membantu evakuasi. “Apa yang bisa kita bantu akan segera kami kirim ke sana.”

Bantuan juga dikirim BRI Peduli berupa makanan siap santap. “Dalam 1-2 hari ini, warga terdampak sangat membutuhkan bantuan makanan siap santap karena dapur umum masih dalam persiapan,” tutur Corporate Secretary BRI, Aestika Oryza Gunarto.

Gempa bumi dengan magnitudo 6,2 melantakkan Kabupaten Majene dan Kota Mamuju. Sampai tadi malam, 34 orang ditemukan sudah meninggal dunia. Ribuan warga mengungsi di 15 titik pengungsian di dua daerah itu.

Butuh bantuan

Selain gempa di Sulawesi Barat, bencana alam juga terjadi di sejumlah daerah, kemarin. Di Kalimantan Selatan, banjir semakin parah sehingga pemerintah provinsi menetapkan status tanggap darurat bencana.

Banjir di 10 kabupaten dan kota membuat 20.541 kepala keluarga atau 67 ribu jiwa terdampak. Korban terbanyak berada di Kabupaten Tanah Laut dan Banjar.

Kepala BPBD Kalsel Mujiyat mengatakan proses evakuasi warga terus dilakukan. “Bantuan bahan pokok dan pendirian dapur umum juga dilakukan di titik pe­ngungsian.”

Wakil Bupati Hulu Su­ngai Tengah Berry Nahdian Furqan mengaku banjir semakin parah. “Di pedalam­an, banyak warga belum dievakuasi. Mereka terpaksa bertahan di plafon atau atap rumah. Kondisi mereka mulai kekurangan bahan makanan.”

Perhatian Presiden Joko Widodo juga terarah ke Desa Cihanjuang, Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, yang terdampak tanah longsor. Ia meminta warga terdampak longsor direlokasi.

“Untuk penanganan longsor di Kabupaten Sumedang, saya juga telah perintahkan kepada kepala BNPB, Menteri Sosial, Menteri PU-Pera untuk segera melakukan relokasi warga terdampak bencana,” ungkapnya di Istana Kepresidenan Bogor. (TB/DY/Dhk/AD/JI/LD/BB/BN/YH/TS/JS/N-2)