SKK Migas Berkoordinasi Jaga Operasional Kontraktor

 

Data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mencatat rata-rata lifting minyak bumi pada kuartal 1 2020 sebesar 701.600 barel per hari (bopd). Angka itu sekitar 92,9% dari target APBN sebesar 755.000 bopd.

“Ke depan, lifting migas akan semakin tertekan akibat covid-19 dan rendahnya harga minyak,” kata Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto ketika memaparkan kinerja SKK Migas kuartal I 2020 di Jakarta, Kamis (16/4).

Dwi menjelaskan sangat berat mencapai lifting migas sesuai target APBN 2020 meski rata-rata lifting migas di kuartal I 2020 mencapai 101% jika dibandingkan dengan target WP&B yang sebesar 1,728 juta barel setara minyak per hari.

“Ini artinya kita berhasil melakukan langkah-langkah kreatif untuk meningkatkan produksi,” kata Dwi Soetjipto.

Pada kegiatan operasional hulu migas, pencegahan penyebaran covid-19 membuat transportasi material dan inspeksi kinerja peralatan/fasilitas lebih lama, juga produktivitas engineering dan konstruksi menjadi lebih rendah karena pergerakan tenaga kerja yang terbatas.

Selain itu, persetujuan peng­urusan perizinan memakan waktu yang lebih lama. Akibat dari hal-hal tersebut di atas, semua kegiatan harus menyesuaikan kondisi yang dihadapi.

Untuk mengatasi hambatan operasional dan kelancaran proyek, SKK Migas telah ber­koordinasi dengan para gubernur di wilayah kerja KKKS, Kementerian Luar Negeri, serta Kementerian Hukum dan HAM untuk meminta bantuan agar mobilisasi pekerja hulu migas dapat tetap dilaksanakan, dengan tetap memperhatikan kaidah dan keselamatan kerja.

Dengan kondisi ini, SKK Migas dan kontraktor KKS memperkirakan rata-rata produksi minyak pada 2020 sebesar 725 bopd dan gas bumi sebesar 5.727 mmscfd.

Adapun perkiraan gross revenue dari sektor ini juga akan menurun dari US$32 miliar menjadi US$19 miliar. (Ant/E-1)