Stabilitas Nilai Tukar Penting untuk Investasi

 

Pelaku ekonomi, mulai konsumen hingga investor, mengharapkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS cenderung stabil.  Hal itu berdampak positif pada iklim investasi.

“Terciptanya stabilitas nilai tukar rupiah dapat memitigasi risiko nilai tukar sehingga berdampak positif dalam mendorong peningkatan investasi,” ujar ekonom Bank Permata  Josua Pardede kepada Media Indonesia, Rabu (6/1).

Penguatan kurs rupiah, lanjutnya, juga diyakini akan mendorong minat investasi, baik investasi di pasar modal maupun investasi di sektor riil.

Dalam rangka menjaga stabilitas rupiah, Josua mengatakan pemerintah perlu mengupayakan kebijakan yang mendo­rong peningkatan kinerja ekspor.

“Misalnya dengan kebijakan pelonggaran lisensi ekspor, terutama untuk komoditas-komoditas ekspor ke negara-negara yang sudah mengalami pemulihan ekonomi, seperti Tiongkok atau India,” jelas Josua.

Selain itu, tambahnya, Bank Indonesia juga berperan besar dalam mendorong menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dengan melakukan langkah-langkah stabilisasi, seperti triple intervention di pasar spot, domestic non-deliverable forward, dan pasar surat berharga negara.

Pemerintah juga diminta menyiapkan beberapa strategi dalm rangka pendalaman pasar keuangan.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan pergerakan nilai tukar atau kurs rupiah cenderung stabil. “Nilai tukar rupiah kita ada penguatan cenderung stabil,” ujar Sri Mulyani.

Kemarin rupiah ditutup menguat 20 poin atau 0,14% ke posisi 13.895 per 1 dolar AS dari posisi penutupan hari sebelumnya 13.915.

Namun, Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi memperkirakan pelemahan kurs rupiah akan terjadi pada perdagangan Rabu (7/1), seiring pengumuman adanya pengetatan PSBB di Jawa dan Bali mulai minggu depan.

Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures Ariston Tjendra juga mengatakan hal serupa. “Namun, pelemahan tidak besar karena di sisi lain indeks dolar AS juga masih melemah,” ucap Ariston. (Ins/E-1)