Stimulus Bank Sentral dan Vaksin Kerek Rupiah

 

DIREKTUR TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah bisa menguat signifikan pada kuartal I 2021. Penguatan itu didorong oleh rencana bank-bank sentral global yang akan menggelontorkan stimulus tak terbatas, ditambah ketersediaan vaksin covid-19 dan eksekusinya.

“Bisa saja menyentuh 13.500 per dolar AS. Itu di kuartal pertama,” kata Ibrahim, saat dihubungi, kemarin.

Faktor lain yang mendorong penguatan rupiah, kata Ibrahim, ialah stabilitas politik di dalam negeri yang membaik. “Ini membuat pelaku pasar lebih senang dan tenang berinvestasi di Indonesia ketika stabilitas politik membaik. Ini berpengaruh sekali bagi investor.

Indonesia salah satu peluang bisnis yang dinantikan pasar karena suku bunganya kompetitif jika dibandingkan dengan negara lainnya,” kata Ibrahim.

Secara terpisah, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini dapat menyentuh 5,5%. Menurutnya, optimisme tersebut tak lepas dari kebijakan yang sudah dipersiapkan oleh pemerintah dalam pemulihan ekonomi.

“Dengan berbagai kombinasi kebijakan dan peluang yang kita manfaatkan secara optimal, maka diharapkan ekonomi Indonesia dapat tumbuh di sekitaran atau kisaran 4,5% hingga 5,5% di tahun 2021,” ungkap Agus dalam keterangannya.

Menperin mengatakan beberapa langkah strategis yang dilakukan pemerintah untuk mengakselerasi pemulihan ekonomi nasional di tahun depan, antara lain melakukan pengadaan dan pemberian vaksin kepada masyarakat.

“Game changer pemulihan ekonomi nasional di masa pandemi adalah pelaksanaan vaksinasi itu sendiri,” ujar Agus.

Agus menambahkan, Indonesia memiliki modal yang cukup untuk memacu pemulihan ekonomi di 2021. Hal itu sejalan dengan kondisi ekonomi global yang menunjukkan adanya tanda-tanda perbaikan di tengah ancaman gelombang kedua covid-19.

Dia menyebutkan OECD atau Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan memperkirakan ekonomi global pada 2021 tumbuh sebesar 4,0%. Selain itu, Asian Development Bank (ADB) memproyeksikan di angka 5,3% dan IMF membidik 5,2%. “Modal yang cukup kuat yang dimiliki oleh Indonesia adalah terkait dengan upaya pemulihan ekonomi,” ujarnya. (Try/Ins/E-3)