Tidak Ada yang Tersembunyi bagi Allah

DALAM kehidupan sehari-hari tak jarang dua orang berbicara, bahkan berbisik membicarakan sebuah rahasia, kebaikan atau keburukan. Tafsir Al-Mishbah kali ini membahas surah Al-Mujadalah, bahwa Allah memerintahkan orang-orang yang beriman agar membicarakan kebaikan ketika berbicara secara rahasia. Kebaikan ialah kata menyeluruh untuk seluruh kebaikan, ketaatan, menunaikan hak-hak Allah, hak-hak sesama manusia, takwa, dan lainnya. Kebalikannya, Allah tidak suka dengan orang yang membicarakan tentang keburukan sehingga disebutkan dalam surah Al-Mujadalah mereka disebut seorang mendosa.

‘Tidakkah engkau perhatikan orang-orang yang telah dilarang mengadakan pembicaraan rahasia, kemudian mereka kembali (mengerjakan) larangan itu dan mereka mengadakan pembicaraan rahasia untuk berbuat dosa, permusuhan, dan durhaka kepada Rasul’.

Dikatakan, orang tersebut berdosa lantaran sudah mengetahui bahwa apa yang dilakukannya merupakan hal yang salah. Ayat tersebut mengisyaratkan bahwa tidak satu pun yang tersembunyi bagi Allah, dari bisikan sampai yang diucapkan dengan terang-terangan.

Disebut, dosa bermacam-macam, bisa terhadap orang lain, diri sendiri, binatang, menyebarkan permusuhan lewat percakapan rahasia tersebut, hingga durhaka kepada Rasul. Durhaka kepada Rasul ini pun beragam, salah satu contohnya berbisik atas kedurhakaan kepada Rasulullah, hingga mengeraskan suara lebih kencang daripada suara Rasul.

Namun, berbisik dengan kebaikan justru dibolehkan terlebih dalam tiga hal, yakni memerintahkan orang untuk bersedekah, memerintahkan untuk memperhatikan budaya positif masyarakat, dan melakukan kebaikan kepada dua orang yang berselisih. Hal ini seperti tercantum dalam ayat ke-9, artinya: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu mengadakan pembicaraan rahasia, janganlah kamu membicarakan perbuatan dosa, permusuhan, dan durhaka kepada Rasul. Tetapi bicarakanlah tentang perbuatan kebajikan dan takwa. Dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kamu akan dikumpulkan kembali’.

Di Islam diajarkan mengucapkan salam, yakni assalamualaikum yang berarti semoga keselamatan dan rahmat Allah serta keberkahan-Nya terlimpah untukmu. Kaum Yahudi datang kepada Rasulullah yang juga mengucapkan salam, tapi lidahnya dibelokkan sehingga menjadi arti baru. ‘As saam alaika’ yang artinya mudah-mudahan kematian menimpa kamu. Rasul pun menjawab ‘alaikum’ yang berarti atas kamu juga.

Setelah orang Yahudi mengucapkan salam penghinaan pada Rasulullah tersebut, umat bertanya pada Rasulullah, ‘Mengapa Allah tidak menyiksa kita atas apa yang kita katakan itu?’. Pada ayat 10, Allah mengingatkan kembali pembicaraan rahasia dengan keburukan merupakan karakter setan karena menghasut manusia membangkitkan permusuhan dan kebencian. (Wan/H-3)