Transformasi Pendanaan Tingkatkan Mutu Perguruan Tinggi

 

PENDIDIKAN tinggi di Indonesia perlu bergerak lebih cepat agar dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman serta mampu menghasilkan
sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas serta berdaya saing.

Karena itu, pemerintah meluncurkan program Merdeka Belajar episode keenam terkait transformasi pendanaan pemerintah untuk pendidikan tinggi. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bakal meningkatkan pendanaan pendidikan tinggi pada 2021 mendatang sebagai salah satu upaya mendongkrak mutu pendidikan tinggi.

“Ada 3 tujuan utama dalam melakukan peningkatan pendanaan. Pertama, lulusan bisa produktif mendapatkan pekerjaan dalam waktu sing-
kat dan memiliki penghasilan layak. Kedua, untuk dosen agar lebih mengerti kebutuhan dan kompetensi yang relevan bagi lulusan kita sehingga sesuai kebutuhan rill di berbagai sektor di masyarakat dan industri. Ketiga, kurikulum dan pembelajaran yang lebih mengasah keterampilan yang dibutuhkan di masyarakat yakni kemampuan kolaborasi dan pemecahan masalah,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim dalam Peluncuran Merdeka Belajar Edisi Keenam, kemarin. Lebih lanjut Nadiem menu-
turkan, terdapat tiga transformasi pendanaan baru untuk perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS) dalam kebijakan tersebut.

Pertama, Kemendikbud akan memberikan tambahan dana atau insentif kinerja sebesar Rp500 miliar bagi PTN yang mampu mengalami peningkatan indikator kinerja utama (IKU) tertinggi atau mencapai target yang ditetapkan pemerintah. Selain itu, alokasi dasar untuk PTN meningkat Rp800 miliar sehingga bantuan dana untuk PTN pada 2021 mendatang bisa mencapai Rp4,2 miliar dari Rp2,9 miliar pada 2020.

IKU yang menjadi landasan transformasi sektor pendidikan tinggi terdiri dari delapan indikator yaitu lulusan mendapat pekerjaan yang layak (baik bekerja di perusahaan, menjadi wirausaha, atau melanjutkan studi), mahasiswa mendapatkan pengalaman di luar kampus, dosen berkegiatan di luar kampus, dan praktisi mengajar di dalam kampus. Kemudian, hasil kerja dosen digunakan masyarakat dan mendapatkan rekognisi internasional, program studi bekerjasama dengan mitra kelas dunia, kelas yang kolaboratif dan partisipatif, serta program studi berstandar internasional.

“Ke depan pendanaan perguruan tinggi akan diberikan dalam bentuk biaya operasional yang mendorong tercapainya IKU dengan sistem insentif yang sesuai capaian mereka,” tuturnya.

Kedua, Kemendikbud mengakselerasi kontribusi industri bagi pengembangan pendidikan dan penelitian di perguruan tinggi melalui skema matching fund. Jika perguruan tinggi menerima dana proyek, riset atau kerjasama dari mitra industri, pemerintah akan memberikan dana penyeimbang.

Anggaran yang disediakan mencapai Rp250 miliar dan diprioritaskan berdasarkan potensi dampak kerjasama dengan 8 IKU serta relevansi dengan sektor atau topik prioritas pemerintah.

“Matching fund akan diprioritaskan untuk kemitraan yang memiliki dampak terbesar terhadap 8 IKU. Namun, kriteria lain yang kami lihat ialah seberapa besar potensi partisipasi mahasiswa dalam project itu, kami juga lihat potensi untuk menyelesaikan masalah di masyarakat secara riil dan dampak terhadap pencapaian 8 IKU,” jelasnya.

Selain itu penciptaan ekosistem rekacipta melalui aplikasi Kedaireka yang bisa diakses pada laman www.kedaireka.id memberikan akses berkeadilan bagi seluruh perguruan tinggi dan seluruh industri untuk membangun kemitraan secara massal, sehingga permasalahan bisnis pada industri dapat diberikan penyelesaian oleh perguruan tinggi. Kemitraan yang terjadi ini didanai oleh Kemendikbud melalui skema pendanaan Matching Fund.

Adapun yang terakhir yaitu program kompetisi kampus merdeka atau competitive fund sebesar Rp500 miliar, untuk mendorong inovasi dan terobosan program pendidikan tinggi yang berorientasi pada masa depan. Manfaat competitive fund yaitu mendorong PTN dan PTS dalam membuat strategi pencapaian 8 IKU dan dalam mempertimbangkan peluang integrasi, mendanai proyek aspirasi yang dampaknya besar dan tidak dapat didanai oleh skema pendanaan rutin, serta membangun kapabilitas perguruan tinggi dalam perencanaan transformasi yang berdampak besar.

Kompetisi akan dibagi menjadi tiga liga, yaitu liga A perguruan tinggi berdaya saing, liga B perguruan tinggi berkembang, dan liga C perguruan tinggi binaan.

“Ini ialah competitive fund untuk mendorong misi diferensiasi setiap universitas menemukan jati diri dan spesialisasinya, serta untuk maju agar kita siap menghadapi masa depan,” pungkas Nadiem.

Pada acara yang sama, Dirjen Dikti, Nizam, mengajak untuk saling bergandengan tangan agar mendorong akselerasi. “Seperti yang dikatakan Bapak Presiden kita tidak harus business as usual, kita harus melakukan break through untuk berlari membangun sumberdaya yang unggul dan Indonesia yang maju,” tuturnya.

Ciptakan terobosan

Pada kesempatan sama, Presiden Joko Widodo mengatakan dalam menjawab perkembangan zaman, perguruan tinggi perlu menjalani standar normalitas baru seperti merelaksasi kurikulum yang kaku menjadi fleksibel, membuka diri terhadap paradigma baru, dari berorientasi theory building menjadi problem solving bahkan impact making.

Perguruan tinggi juga harus bertransformasi menjadi lebih dinamis, mampu menciptakan terobosan, membangun iklim kompetisi untuk meningkatkan daya saing, menjalin kolaborasi dengan BUMN dan industri, serta menerapkan model-model kerja sama lain untuk mengoptimalkan kemampuan dan mendorong prestasi yang lebih baik.

“Jangan terjebak pada rutinitas perguruan tinggi, harus punya waktu, energi dan keberanian untuk melakukan perubahan. Harus terus-
menerus mengembangkan inovasi dengan memanfaatkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta menciptakan generasi unggul untuk mewujudkan Indonesia Maju,” tutup Presiden. (Aiw/Pra/S3-25)