UKM makin Lirik Digital

 

PANDEMI mempercepat penyerapan teknologi dalam bisnis usaha kecil dan menengah (UKM).

UKM berupaya untuk fokus pada transformasi digital sebagai cara untuk mendorong arus pemasukan mereka secara daring di tengah pandemi.

Hal itu terekam dalam Kajian Transformasi UKM ASEAN 2020 oleh United Overseas Bank (UOB) berkolaborasi dengan Accenture dan Dun & Bradstreet (D&B) yang melakukan survei terhadap 1.000 UKM di lima negara ASEAN, yaitu Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, dan Vietnam untuk memperoleh pandangan mereka atas dampak pandemi covid-19.

Sebesar 65% dari UKM yang disurvei menyatakan teknologi merupakan investasi utama mereka dengan prioritas untuk membangun kemampuan dalam layanan dan penjualan digital.

“Dengan 57% UKM optimistis dengan keadaan ekonomi ketika wabah mereda, langkah UKM berinvestasi pada teknologi akan memberikan cara-cara baru bagi individu dan bisnis dalam beroperasi, bekerja, hidup dan bermain, serta membantu UKM untuk bertahan di tengah kompetisi,” tutur Business Dev & Strategic Alliance Head UOB Indonesia Charles Anthony Bunaini di Jakarta, kemarin.

Charles menambahkan bahwa saat ini, berdasarkan rilis Kemenkop dan UKM, sebanyak 9,4 juta UKM sudah melakukan digitalisasi. Hal ini membuktikan bahwa UKM mulai menggunakan teknologi untuk menjual produk melalu e-commerce dan juga sosial media untuk mempromosikan penjualan.

Di tempat yang sama, Head of Public Policy Idea (Indonesia E-commerce Association) Rofi Uddarojat menambahkan bahwa e-commerce siap menjadi kanal perdagangan untuk UKM. Pasalnya, dalam masa pandemi ini, pola perilaku konsumen telah berubah dan e-commerce menjadi jawaban untuk mendongkrak pendapatan UKM.

“Jadi, sebanyak 64 juta UMKM yang jadi backbone ekonomi ini harus memanfaatkan ekosistem digital. Mereka bisa menjual semuanya lewat e-commerce sekarang. Kita dorong supaya e-commerce saat ini bantu jual produk lokal. Platformnya sudah tersedia dan UKM tinggal on boarding saja,” pungkasnya.

Dalam kesempatan berbeda, Associate Certified Coach dari International Coach Federation Hasnul Suhaimi menilai pemberdayaan pelaku UKM berpotensi menjadi lebih besar dari saat ini dengan melibatkan banyak pemangku kepentingan, BUMN dan pihak swasta, serta lembaga pendidikan.

Selain itu, pemberdayaan yang sudah berjalan menurutnya harus tetap dikawal agar benar-benar diterapkan pelaku UKM dalam menjalani bisnis sehari-hari.

“Berbagai macam cara untuk memberdayakan UKM karena banyak jenis usahanya. Mungkin ada yang butuh model training, pendampingan, atau seperti inkubasi begitu,” ujarnya. (Iam/E-1)