Usaha Beduk Banyumas Menggeliat

 

SUARA nyaring serutan kayu terdengar di sebuah tempat di Desa Keniten, Kecamatan Kedungbanteng, Banyumas, Jawa Tengah (Jateng). Lima laki-laki yang terlihat sibuk dengan pekerjaan mereka. Ada yang meyerut kayu untuk memastikan ukuran. Terlihat juga pekerja yang mengecat. Begitulah suasana tempat usaha pembuatan beduk di desa setempat.

"Setiap harinya kami bekerja untuk merampungkan pesanan. Alhamdulillah, Ramadan tahun ini sudah banyak yang memesan. Sangat berbeda ketika awal pandemi lalu. Benar-benar mati suri, bahkan sampai 10 bulan. Kami tidak bekerja mulai Maret hingga Desember 2020. Padahal, biasanya pada Ramadan, pesanan meningkat. Namun, pada 2020 benar-benar tak ada yang pesan. Masjid-masjid dan musala kan ditutup karena pandemi covid-19 sehingga tidak ada aktivitas. Ini berdampak pada usaha pembuatan beduk," ungkap Zuhril, 46, salah seorang pekerja.

Pemilik usaha beduk, Taufik Amin, 49, mengatakan Ramadan tahun sekarang merupakan tonggak kebangkitan usahanya setelah mengalami mati suri selama 10 bulan. "Pada awal 2020, sebetulnya normal. Namun, setelah pandemi Covid-19, mulai Maret benar-benar berhenti.

Padahal, kami sudah mempersiapkan untuk menghadapi Ramadan karena biasanya memasuki Ramadan, biasanya pesanan melonjak. Persiapan sudah, apa daya datang pandemi. Semuanya harus berhenti," keluhnya.

Selama 10 bulan berhenti hingga Desember 2020, bahan-bahan yang masih ada tidak mengalami kerusakan sehingga masih dapat dipakai sebab kayu yang digunakan kukuh dan tahan lama karena jenis trembesi. Selama 2020, dampaknya luar biasa karena omzet anjlok hingga 90%. "Dalam kondisi normal, kami mampu memproduksi 100 beduk berbagai ukuran setiap tahun. Omzetnya sekitar Rp250 juta. Namun, ketika pandemi datang, merosot hingga 90%," kata Taufik.

Namun, begitu masuk Januari dan pemerintah mulai mengendurkan aturan, usaha jadi menggeliat. "Begitu memasuki Januari 2021, mulai ada pesanan dan kami mulai mengerjakan kembali para pekerja.

Selama ini mereka kerja serabutan pada saat usaha beduk tutup. Mulai Januari lalu, mereka kembali ke sini," katanya.

Memasuki Ramadan tahun ini pesanan beduk sudah mencapai 10 buah dengan ukuran dan harga yang berlainan. Beduk dengan diameter 50 cm harganya mencapai Rp2,5 juta, 60 cm Rp3,5 juta, dan diameter 80 cm Rp5,5 juta. "Itu ialah ukuran beduk yang biasa dipesan pelanggan. Tetapi sebetulnya, kami juga membuat ukuran besar, yakni diameter 1 meter dan 1,5 meter. Untuk beduk diameter 1 meter harganya mencapai Rp11 juta dan diameter 1,5 meter senilai Rp45 juta," paparnya.

Pesanan beduk tidak hanya langsung ke pelanggan di sekitar Banyumas, Purbalingga, Cilacap, Banjarnegara, dan lainnya, tetapi juga dibawa ke penyalur di Bumiayu, Brebes. Bagi Taufik, Ramadan tahun ini memang penuh berkah, setidaknya usahanya kembali menggeliat setelah 10 bulan mati suri. (Lilik Darmawan/H-3)