Vaksinasi Efektif Cegah Kanker Serviks

 

PEMERINTAH diminta menjadikan vaksinasi kanker serviks sebagai program prioritas karena cara itu dianggap paling efektif dalam menekan angka kejadian kasus. Hal tersebut menjadi kesimpulan dalam diskusi daring Forum Diskusi Denpasar 12 bertema Peta jalan perempuan Indonesia bebas kanker serviks, kemarin.

“Ini penyakit yang bisa dicegah dan diobati. Dicegah lewat edukasi yang masif dan diobati bila dilakukan pengobatan sejak dini atau lewat vaksinasi,” ujar Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat.

Akibat belum teratasinya kanker serviks, ungkap dia, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 di Indonesia mencatat pada 2018, 1,8% dari 1.000 penduduk terpapar kanker serviks.

Sementara itu, Union for International Cancer Control (UICC) pada 2020 mencatat 7.000 orang di dunia meninggal akibat kanker serviks.

“Kalau dihitung berarti dalam setaip 1 jam terdapat 1 perempuan meninggal karena kanker serviks atau kanker rahim dengan prevalensi dalam 5 tahun terakhir sekitar 64,9%. Yang sangat memprihatinkan, kanker serviks ini menyasar perempuan usia produktif,” sebut anggota Majelis Tinggi Partai NasDem yang juga penyintas kanker payudara itu.

Ketua Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia (HOGI) Prof Andrijono SpOG menuturkan, program vaksinasi kanker serviks di Indonesia sebenarnya sudah ada, tapi berjalan lambat. Per tahun hanya satu kabupaten, padahal di Indonesia ada lebih dari 400 kabupaten.

“Kalau masih begini untuk menyelesaikan ke seluruh Indonesia bisa 400 tahun. Gak kelar-kelar ini,” sergahnya.

Vaksin yang biasa digunakan untuk mencegah kanker serviks ialah Human Papilloma Virus (HPV). Vaksinasi HPV ini dianjurkan diberikan sejak dini, sebelum menjadi aktif secara seksual. Menurutnya, sejumlah negara yang melakukan vaksinasi massal HPV berhasil menekan kasus kanker serviks.

Terlindungi 15 tahun

Andrijono menyebutkan, biaya vaksinasi nasional pun tidak begitu besar. Diperkirakan sekitar 2 juta anak perempuan Indonesia yang menerima vaksin dengan 2 dosis.

“Kalau vaksin kan disuntik dua kali sudah terproteksi selama 15 tahun karena dalam penelitian sampai sekarang ini vaksin sudah 16 tahun masuk tahun ke-17. Sudah bisa memproteksi dan antibodinya masih tetap tinggi sehingga masih bisa proteksi. Ini sangat menguntungkan sekali,” ujarnya.

Hal senada diutarakan Direktur Center for Health Economics Studies, Didik Setiawan. Dari perhitungannya, untuk memberi vaksin kanker serviks kepada 2,3 juta perempuan seusia kelas 5 dan 6 sekolah dasar di Indonesia, hanya membutuhkan anggaran Rp324 miliar per tahun.

Kepala BKKBN Hasto Wardoyo mendukung gagasan vaksinasi kanker serviks ini. Selain vaksinasi, Ketua Umum CISC Aryanthi Baramuli Putri menyampaikan ada cara lain mewujudkan Indonesia bebas kanker serviks pada 2030, yaitu dengan mencegah terjadinya pernikahan dini. “Masalah ini menjadi salah satu kendala bagi penanganan tuntas kanker serviks di Indonesia,” tukasnya. (RO/H-2)