Weekend

DAPUR menjadi area yang makin diakrabi sebagian orang selama merebaknya penyakit virus korona. Ada yang memanfaatkannya seperti taman rekreasi tempat beristirahat dari rutinitas karena tidak bisa ke mana-mana, ada yang menjadikannya laboratorium untuk bisnis kuliner.

Ada juga yang sekadar jadi baru kenal. Ambil contoh saya yang mulai kerap beraktivitas ala kadarnya di dapur, misalnya menggoreng tempe. Terkadang dalam mencari suatu alat masak, saya tertarik oleh alat masak lainnya yang membuat saya teringat akan suatu masakan atau minuman.

Terakhir alat masak yang menarik perhatian ialah blender. Alat itu melayangkan ingatan saya ke jus buah, minuman yang saya suka, bahkan ketika menuliskan itu saja terbitlah sedikit selera saya untuk mencicip satu.

Blender dipakai untuk menghancurkan atau menghaluskan bahan makanan bertekstur tidak terlalu keras dan basah. Yang dihaluskan biasanya sayuran, kacang-kacangan, buah-buahan, dan makanan beku. Karena ada blender, orang tidak perlu repot lagi mengulek.

Menariknya pada suatu hari sebelum pandemi perhatian saya pernah terbentur pada kardus bungkus blender. Di kardus itulah saya melihat tulisan blender sebagai kata asing dan diindonesiakan dengan kata pelumat. Bukan penghalus, bukan pencampur.

Dalam Kamus Inggris-Indonesia susunan John M Echols dan Hassan Shadily, blender diterjemahkan ‘blender, alat pencampur’. Kata dasarnya, blend, diterjemahkan ‘campuran’ dan ‘paduan’ untuk nomina dan ‘mencampurkan’ dan ‘cocok’ untuk verba.

Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring belum mencantumkan blender saat itu. Namun, ketika saya menulis ini, 22 April yang bertepatan dengan 10 Ramadan 1442 Hijriah, sudah ada blender dalam kamus besar itu.

Diterangkan kamus besar itu, nomina blender adalah ‘alat bertenaga listrik untuk melumatkan buah, makanan, dan sebagainya’. Bentuk tidak baku dicatatnya, belender, karena lidah umumnya orang Indonesia mengartikulasikan kata itu sebagai belender, dengan be- seperti pada kata belajar, bukan blen-.

Ini menarik karena setelah lama orang Indonesia akrab dengan blender, baru beberapa waktu lalu kata blender masuk Kamus Besar Bahasa Indonesia. Itu pun tidak menggunakan pelumat sebagai padanan kata blender meski pelumat dipakai di kardus-kardus pembungkus blender. Definisinya hanya mengandung lumat di verba melumatkan.

Ketika ditelusur ke kata pelumat, kamus besar itu mendefinisikan nomina itu sebagai ‘alat untuk melumatkan’. Kata blender tidak digolongkan sebagai padanan pelumat.

Penyederhanaan pengindonesiaan blender--menurut Merriamwebster.com pertama diketahui kata itu digunakan pada sekitar 1611 silam–menjadi blender membawa saya ke satu lagi benda yang ada di dapur, setidaknya dapur saya. Wadah air minum yang disebut tumbler.

Sudah ada tumbler dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring. Nomina itu dimaknai (1) ‘gelas, tidak bergagang, terbuat dari kaca, plastik, dan sebagainya’ dan (2) ‘wadah air minum berbentuk seperti gelas tanpa gagang, memiliki tutup, terbuat dari kaca atau plastik, dapat menjaga suhu minuman tetap seperti semula, mudah dibawa ke mana saja’.

Definisi pertama terlalu umum. Baru di makna kedua ada gambaran mendetail. Deskripsi detail inilah benang merah antara blender dan tumbler. Kesamaan lain, sudah jelas, seperti menegakkan benang basah, eh, huruf miring saja.