Wapres: Ekonomi maju jika 10 persen penduduk merupakan pelaku usaha

CKB Group tangani jasa logistik PT Vale Indonesia

Kemendag lepas ekspor perdana pinang ke Arab Saudi

PT PP dukung pengembangan desa wisata di lima destinasi pariwisata

GM dapat kontrak buat SUV untuk keamanan diplomatik AS

Dolar AS menguat dipicu ketidakpastian atas krisis utang Evergrande

Perekonomian Banten kembali tumbuh positif

Toyota Yaris WRC Returns to Home Roads for an Autumn Rally Finland

Xilinx and NEC Accelerate Next-Generation 5G Radio Units for Global Deployment

Mitsui Chemicals Teams up With NEC and dotData to Trial AI-based Price Change Forecasting for Market-Sensitive Products

Gradiant Mencapai Pertumbuhan Yang Kuat Di Seluruh Asia di Pengolahan Air Cleantech selama Pandemi

BI: Peningkatan kredit UMKM wujud optimisme saat pandemi

Airlangga: Realisasi KUR capai Rp183,78 triliun per 20 September

Rupiah ditutup terkoreksi masih dipengaruhi sinyal tapering The Fed

Moonstake Joins Hyper Protect Accelerator, A Startup Incubator Program of IBM

Justin Sun: Preserve the Blockchain Spirit of Compliance and Transparency

Fujitsu Sources 100% of Energy Needs for Global HQ from Renewables

Kemenperin: Kawasan Peruntukan Industri dorong ekonomi daerah

Chengxin China akan berinvestasi dalam proyek lithium di Indonesia

Agilex Biolabs Announced as Citeline Award Finalist for COVID-19 Vaccine Toxicology Preclinical Research

Animoca Brands uses Blockpass’ On-chain KYC(TM) to verify NFT prize winners

Pelumas ECSTAR punya varian baru untuk motor dan mesin kapal

Honda and Google Collaborate on In-vehicle Connected Services

LPEI danai Rp50 Miliar ke PT Sarinah dukung UMKM Go Global

Produksi baja global anjlok pada Agustus, pertama kali dalam setahun

StanChart sebut krisis Evergrande tidak kurangi antusiasme untuk China

ACROMEC’s associated Life Science Incubator launches Co-working Labspace

Dolar AS tergelincir terseret meningkatnya sentimen risiko global

FBS Trader App Shows a Perfect Example of Economic Calendar

Perbankan diminta lindungi nasabah dari serangan siber

Peneliti ungkap cara kuatkan hubungan dagang Indonesia-Inggris

Skema Perdagangan Negara Berkembang atau DCTS yang baru diluncurkan Inggris pasca-Brexit meningkatkan peluang Indonesia

Jakarta () – Kepala Penelitian Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta menyebutkan Indonesia dapat memperkuat hubungan perdagangan dengan Inggris melalui cara meningkatkan kemudahan berusaha dan mengurangi hambatan perdagangan.

“(Hal itu dilakukan) agar mampu bersaing dengan negara berkembang lainnya,” kata Felippa dalam keterangan pers, Jakarta, Selasa.

Dia menjelaskan bahwa hubungan perdagangan Indonesia-Inggris dapat dilakukan dengan memanfaatkan rencana the Developing Country Trading Scheme (DCTS) dan Joint Economic and Trade Committee (JETCO) yang telah disepakati bersama.

Skema Perdagangan Negara Berkembang atau DCTS yang baru diluncurkan Inggris pasca-Brexit, jelasnya, meningkatkan peluang Indonesia yang sudah menandatangani JETCO dengan Inggris, untuk memaksimalkan perdagangan dengan kedua negara tersebut.

JETCO yang terbentuk atas rekomendasi dari Joint Trade Review (JTR) kedua negara, lanjut Felippa, bertujuan untuk membuka peluang kerja sama perdagangan melalui peningkatan hubungan bilateral dan identifikasi sektor potensial beserta hambatannya.

Kemudian, mengutip data Kementerian Perdagangan, kata dia, memperlihatkan tingkat perdagangan Indonesia dan Inggris yang masih rendah.

Di tahun 2019, disebutkan ekspor Indonesia ke Inggris mencapai 1,8 miliar dolar AS, sementara impor dari Inggris mencapai 965 juta dolar. Adapun total impor dan ekspor Inggris di tahun yang sama dikatakan mencapai 692,5 miliar dolar dan 468 miliar dolar.

Selain itu, total nilai perdagangan Indonesia-Inggris mencapai 2,2 miliar dolar AS pada tahun 2020.

Felippa menganggap Indonesia memiliki peluang besar untuk mengekspor produk tekstil, alas kaki, minyak sawit, produk kehutanan, elektronik, karet, makanan olahan, udang, barang kerajinan, ikan, minyak atsiri, coklat dan kopi ke pasar Inggris.
Baca juga: Kemenko: Standar usaha berbasis risiko pastikan kemudahan berusaha

Sementara itu, diungkapkan bahwa Indonesia banyak mengimpor besi baja, mesin-mesin dan otomotif, kimia dasar, tekstil, barang-barang kimia lainnya, elektronika, produk farmasi, plastik, pengolahan aluminium, dan kosmetika.

“Namun, peluang meningkatkan ekspor ini diikuti tantangan dengan masih adanya hambatan tarif dan nontarif dalam regulasi perdagangan Indonesia dan isu keberlanjutan yang erat kaitannya dengan Good Agricultural Practice (GAP) yang dilakukan oleh petani lokal," tulisnya

Penelitian CIPS menemukan bahwa hambatan proteksionis pada perdagangan merupakan salah satu alasan investor enggan menanam modal asing di Indonesia.

Dia menerangkan bahwa adanya UU Cipta Kerja dan Peraturan Presiden (Perpres) 10/2021 yang disambut baik oleh dunia usaha, perlu diyakinkan oleh Kementerian Investasi agar mampu menghilangkan tumpang tindih regulasi di tingkat kementerian dan pemerintah daerah, yang sering menjadi sumber terhambatnya perizinan investasi.

Baca juga: Menkumham dorong pemda beri kemudahan berusaha bagi pelaku UMK
Baca juga: Akademisi: UU Cipta Kerja jadi solusi carut marut perizinan usaha

Pewarta: M Baqir Idrus Alatas/M Razi Rahman
Editor: M Razi Rahman
COPYRIGHT © 2021