(SeaPRwire) – Dunia fintech sedang berada di titik didih. Selama ini, ada tembok besar yang memisahkan aplikasi keuangan arus utama dengan likuiditas DeFi yang efisien. Namun, langkah terbaru dari Veda yang merapat ke ekosistem Privy terasa seperti kunci pembuka yang selama ini kita tunggu.
Perspektif Industri: Mengubah Kompleksitas Menjadi Komoditas
Menurut Budi Santoso, seorang analis infrastruktur blockchain yang telah memantau evolusi DeFi sejak era awal, integrasi ini bukan sekadar berita teknis biasa. “Selama bertahun-tahun, kita terjebak dalam dikotomi: antara keamanan institusional yang lambat atau eksperimen DeFi yang berisiko tinggi,” ujar Budi. “Veda membawa standar infrastruktur yang sebelumnya hanya bisa dinikmati pemain raksasa seperti Kraken ke tangan pengembang aplikasi skala menengah. Ini adalah demokratisasi yield. Dengan Privy yang sudah mengakar di 120 juta akun, kita tidak lagi bicara tentang adopsi kripto yang eksklusif, melainkan tentang bagaimana yield onchain menjadi fitur standar dalam aplikasi perbankan digital masa depan. Ini adalah pergeseran dari ‘membangun infrastruktur’ menjadi ‘mengonsumsi infrastruktur’.”
Menyederhanakan Akses ke Yield Institusional
Kemitraan yang diumumkan di Proof of Talk 2026 ini pada dasarnya memangkas waktu pengembangan yang biasanya memakan waktu berbulan-bulan menjadi hitungan hari. Privy, yang kini berada di bawah naungan Stripe, telah menjadi standar emas untuk dompet tersemat (embedded wallets). Dengan masuknya Veda ke dalam API mereka, tim pengembang fintech kini memiliki akses langsung ke sistem vault yang teruji secara institusional.
Berbeda dengan integrasi protokol lending tradisional seperti Aave yang cenderung bersifat single-asset, Veda menawarkan strategi vault yang lebih terdiversifikasi di ekosistem EVM. Ini krusial bagi aplikasi yang ingin mempertahankan saldo pengguna melalui yield yang stabil tanpa harus mengelola kompleksitas teknis di balik layar. Mengingat 70% aset di dompet berbasis Privy kini berupa stablecoin, kebutuhan akan produk yield yang aman dan terukur menjadi sangat mendesak. Veda sendiri sudah membuktikan ketangguhannya melalui Kraken DeFi Earn, yang berhasil menghimpun lebih dari $250 juta dalam waktu singkat. Dengan rekam jejak yang bersih dari insiden keamanan besar dan dukungan dari pakar seperti Alberto Cuesta Cañada, arsitek di balik standar ERC-4626, Veda menempatkan standar kepatuhan dan keamanan sebagai fondasi utama sebelum membuka akses publik bulan depan.
Masa Depan Yield sebagai Fitur Bawaan
Ke depan, kita akan melihat pergeseran di mana yield onchain bukan lagi menjadi produk sampingan, melainkan fitur bawaan (native feature) dalam setiap aplikasi fintech. Tren ini didorong oleh kebutuhan untuk meningkatkan retensi pengguna di tengah persaingan aplikasi keuangan yang semakin ketat. Ketika stablecoin menjadi aset dominan, platform yang mampu menawarkan yield kompetitif dengan risiko terukur akan memenangkan pasar.
Langkah Veda untuk mengeksplorasi Solana setelah ekosistem EVM menunjukkan bahwa mereka tidak hanya bermain di satu kolam, tetapi sedang membangun lapisan infrastruktur lintas rantai yang agnostik. Tantangan terbesarnya kini bukan lagi pada teknologi, melainkan pada regulasi dan edukasi pengguna. Namun, dengan keterlibatan talenta seperti TuongVy Le yang memahami seluk-beluk SEC, Veda tampak sangat siap menghadapi tantangan tersebut. Kita sedang menyaksikan transisi di mana DeFi perlahan-lahan kehilangan label “eksperimental” dan mulai bertransformasi menjadi utilitas keuangan yang membosankan namun sangat fungsional—dan itulah tanda sebenarnya dari sebuah adopsi massal yang sukses.
Artikel ini disediakan oleh penyedia konten pihak ketiga. SeaPRwire (https://www.seaprwire.com/) tidak memberikan jaminan atau pernyataan sehubungan dengan hal tersebut.
Sektor: Top Story, Daily News
SeaPRwire menyediakan distribusi siaran pers real-time untuk perusahaan dan lembaga, menjangkau lebih dari 6.500 toko media, 86.000 editor dan jurnalis, dan 3,5 juta desktop profesional di 90 negara. SeaPRwire mendukung distribusi siaran pers dalam bahasa Inggris, Korea, Jepang, Arab, Cina Sederhana, Cina Tradisional, Vietnam, Thailand, Indonesia, Melayu, Jerman, Rusia, Prancis, Spanyol, Portugis dan bahasa lainnya.