Bom Waktu 18 Tahun Itu Akhirnya Meledak: Selamat Datang di Era ‘Enrollment Volatility’ yang Membantai Kampus-Kampus Kecil

(SeaPRwire) –   Oleh: Adrian Kingsley

Panggungnya sudah gelap sejak 2008. Saat itu, keluarga Amerika ketakutan, menunda punya anak. 18 tahun kemudian, bom demografi itu meledak tepat di muka universitas-universitas AS. Ini bukan soal pandemi atau chip. Ini soal anak-anak yang tidak pernah lahir.

Data dari National Student Clearinghouse Research Center menunjukkan total pendaftaran di perguruan tinggi AS tahun 2025 cuma naik 1%. Bandingkan dengan kenaikan 4% tahun sebelumnya. Di kampus swasta empat tahun, jumlah mahasiswa malah turun 1,6%. Angka agregat untuk 2026 belum keluar, tapi sudah banyak kampus yang gagal mencapai target pendaftaran semester depan.

J. Michael Haynie, Rektor Syracuse University, bilang hal ini langsung ke stafnya pekan lalu. “Enrollment volatility is widespread, unpredictable and the ‘new normal,’” tulisnya. Universitasnya mengalami defisit anggaran untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun. Ini serius.

Apa yang sebenarnya terjadi? Ini fenomena yang sudah diramal bertahun-tahun. Tingkat kelahiran anjlok setelah Resesi Hebat 2007-2009. Penurunan 17% itu artinya 576.000 lebih sedikit anak usia kuliah antara 2025 dan 2029. Angka itu hampir empat kali lipat total mahasiswa Arizona State, kampus terbesar di AS.

Sandy Baum, peneliti senior di Urban Institute, bicara blak-blakan. “Forget the elite institutions. If you’re enrolling 300 students, it’s going to be really tough to make it work.” Ada sekitar 4.000 kampus di AS. Banyak yang namanya tidak pernah Anda dengar. Federal Reserve menemukan sekitar 60 kampus tutup setiap tahun. Angka ini sudah naik drastis dalam satu dekade terakhir. Jika pendaftaran turun 15% antara 2025 dan 2029, Fed memproyeksikan angka penutupan tahunan bisa lebih dari dua kali lipat.

Dampaknya sudah terasa. University of Vermont mengumumkan defisit anggaran $12 juta tahun depan setelah pendaftaran mahasiswa baru turun 15%. University of Wyoming hadapi defisit $15 juta karena menyusutnya pendaftaran, inflasi, dan penurunan investasi. University of Oregon memotong anggaran $30 juta. Rektornya, Karl Scholz, memperingatkan defisit bisa membengkak hingga $65 juta jika tren ini berlanjut.

Krisis ini paling parah menghantam sekolah swasta kecil dan kampus seni liberal klasik. Di New England, tempat lahirnya kampus seni liberal, Hampshire College mengumumkan akan tutup setelah semester musim gugur ini. Selama dekade terakhir, 32 kampus empat tahun di wilayah itu tutup atau merger. Sepertiganya tutup sejak 2020.

Banyak kampus besar selama ini bergantung pada mahasiswa dari luar negara bagian dan internasional. Mereka bisa dikenai biaya kuliah lebih tinggi. Pangsa mahasiswa non-lokal naik rata-rata 55% antara 2002 dan 2022, menurut Brookings Institution. Tapi model ini mulai goyah. Pendaftaran mahasiswa internasional S1 tumbuh hanya 3,2% tahun lalu, setengah dari pertumbuhan 2024. Mahasiswa internasional S2 malah turun hampir 6%. Data NAFSA menunjukkan pendaftaran mahasiswa asing di AS turun 20% tahun lalu.

Sikap keras pemerintahan Trump terhadap mahasiswa asing menjadi salah satu faktornya. Ancaman pencabutan visa membuat banyak calon mahasiswa urung memilih AS. Biaya kuliah mahal dan biaya hidup tinggi juga mendorong anak muda AS beralih ke community college atau sekolah kejuruan.

Baum mengingatkan, jangan baca krisis ini sebagai siklus biasa. “This is not a surprise. We’ve seen this coming for a long time,” katanya. Ini memang sudah lama diramal. Karena bom itu baru meledak sekarang. Dan ledakannya baru akan pecah lebih keras lima tahun ke depan.