(SeaPRwire) –
By: Julian Holbrooke
Suara seruan “kembalikan mereka” yang menggema di Parlemen Eropa bukan hanya momen kekacauan sesaat. Ini adalah tanda jelas bahwa politik migran Eropa telah memasuki titik balik yang tak terbalik. Momentum sayap kanan yang tumbuh selama bertahun-tahun akhirnya berhasil menggeser kebijakan yang dulunya dianggap tabu secara politik.
Fakta resmi menyatakan, anggota Parlemen Eropa pada hari Rabu memilih 418 suara untuk, 218 menentang, dan 30 abstensi untuk menyetujui Return Regulation. Aturan ini dirancang untuk mempercepat pengembalian warga negara ketiga yang tinggal secara ilegal di UE. Tapi di balik angka vote yang dominan ini, ada niat politik yang lebih dalam. Grup ECR (European Conservatives and Reformists Group) mengutip data Komisi Eropa bahwa hanya sekitar 20% migran yang mendapatkan keputusan pengembalian benar-benar dikembalikan ke negara asalnya. Vote ini bukan hanya upaya memperbaiki sistem penegakan hukum yang lemah. Ini adalah respons langsung terhadap kemarahan dan frustrasi pemilih yang telah berkembang selama bertahun-tahun.
Fakta resmi juga menyebutkan, negara anggota akan diberi izin untuk menahan beberapa migran hingga 24 bulan, dengan kemungkinan perpanjangan enam bulan. Selain itu, aturan ini akan membuat kerangka kerja untuk “pusat pengembalian” di luar UE di negara ketiga yang bersedia menerima migran dengan keputusan pengembalian. Tapi niat sebenarnya di balik klausul ini adalah memindahkan beban pengelolaan migran ke negara lain. UE ingin menghindari kritik domestik yang muncul ketika migran ditahan dalam jumlah besar di dalam wilayahnya. Pada Juni lalu, laporan menunjukkan UE sedang bergerak ke arah aturan perbatasan dan suaka yang lebih ketat. Langkah-langkah ini termasuk pemeriksaan penyaringan yang lebih ketat, pemeriksaan identitas dan keamanan, serta penggunaan data biometrik seperti sidik jari dan pengenalan wajah. Pemimpin konservatif seperti Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menyebut hasil vote sebagai “kesuksesan besar” dan “langkah bersejarah” dalam postingannya di X. Tokoh sayap kanan di Prancis dan Austria juga memuji momen ini sebagai bukti bahwa tekanan dari sayap kanan sedang membentuk kebijakan UE. Namun, kritikus menuduh anggota parlemen menghilangkan kemanusiaan migran dan melemahkan perlindungan inti. Wakil presiden Parlemen Eropa dari partai sosialis Javi López menyebut sesi pleno itu “memalukan”, sedangkan anggota Parlemen Eropa dari Aliansi Hijau dan Kiri Italia Ilaria Salis menggambarkan perayaan itu “menakutkan”. Kelompok hak asasi manusia juga mengeluarkan peringatan. Kepala hak asasi manusia PBB Volker Türk memperingatkan bahwa aturan baru berisiko memperluas penahanan, membuat pusat pengembalian luar negeri, dan melemahkan perlindungan terhadap pengembalian paksa.
Gerakan ke arah kebijakan migran yang lebih ketat di Eropa akan menggeser keseimbangan geopolitik blok ini. Hubungan dengan negara ketiga yang menjadi pusat pengembalian akan tertekan, karena mereka akan diminta untuk menerima migran yang UE tidak ingin tangani. Perpecahan di dalam UE antara sayap kanan dan kiri akan terus mempengaruhi kebijakan selanjutnya, membuat blok ini lebih sulit untuk mencapai kesepakatan yang menyeluruh tentang migran.
Author bio: Julian Holbrooke, analis hubungan internasional luar negeri yang sering berkontribusi pada surat kabar besar Eropa.