Mimpi Singapura Jadi Pusat AI Netral Asia: Apakah Masih Mungkin Di Tengah Tekanan AS dan China?

(SeaPRwire) –

By: Oliver Hawthorne

Mimpi Singapura menjadi pusat AI netral Asia sedang diuji di tengah ketegangan geopolitik AS dan China. Zona netral yang selama ini dijanjikan negara ini tidak sepenuhnya bebas dari intervensi negara asing. Banyak perusahaan AI dari kedua negara sudah menanamkan investasi besar di Singapura. Tapi aturan regulasi dari negara asal mereka masih mengikat operasional perusahaan, bahkan ketika kantor sudah terdaftar secara hukum di Singapura. Rasa khawatir di kalangan pelaku industri kian tinggi, karena investasi yang mereka tanam bisa sia-sia kapan saja jika intervensi terjadi.

Tahun lalu, OpenAI dan Google DeepMind mendirikan laboratorium AI terapan di Singapura. Anthropic juga mulai membuka lowongan kerja lokal di bidang keuangan, dukungan produk, dan penelitian ekonomi. Perusahaan teknologi China seperti Tencent juga menambah nilai investasi mereka di negara ini. Plaud, perusahaan AI pencatat catatan dari San Francisco, mempekerjakan karyawan pertama mereka di Singapura pada 2024. Pada 10 Juni tahun ini, mereka mengumumkan alokasi 10 juta dolar Singapura untuk ekspansi operasional lokal, dan berencana menambah jumlah karyawan dari 100 menjadi 150 pada akhir tahun. Alasan utama perusahaan memilih Singapura adalah stabilitas politik, kejelasan regulasi, dan ketersediaan bakat teknologi berkualitas. Dua universitas terbaik Singapura, National University of Singapore dan Nanyang Technological University, masing-masing menduduki peringkat 8 dan 12 di QS World University Rankings tahun ini. OpenAI juga mengucurkan 300 juta dolar Singapura untuk pengembangan industri AI lokal, dan membuka laboratorium AI terapan pertama mereka di luar AS di negara ini. Perusahaan AI asal China melihat Singapura sebagai langkah pertama ekspansi global, bahkan menawarkan gaji tahunan antara 150 ribu hingga 273 ribu dolar AS untuk posisi lulusan PhD AI di Singapura. Tapi ada retakan besar dalam sistem netralitas ini. Manus AI yang memindahkan kantor pusat global ke Singapura pada pertengahan 2025 dijual ke Meta seharga 2 miliar dolar. Pemerintah Beijing berhasil memblokir kesepakatan itu, meskipun status hukum Manus AI adalah perusahaan Singapura, karena teknologi yang mereka miliki berasal dari China. Pemerintah AS juga baru saja melarang individu non-AS menggunakan model AI canggih Mythos milik Anthropic, yang berpotensi membuat Singapura kehilangan akses ke model AI terdepan dari perusahaan AS. Pemerintah Singapura sendiri sudah menggelontorkan 1 miliar dolar Singapura untuk rencana R&D AI nasional pada Januari tahun ini, dan berencana membangun taman industri AI Kampong AI yang akan dibuka pada 2028 dengan fasilitas ruang kerja dan perumahan untuk menarik startup AI.

Industri AI global saat ini sedang beralih fokus dari melatih model besar ke upaya monetisasi produk di pasar nyata. Singapura menawarkan akses ke pasar Asia Pasifik yang luas, di mana banyak perusahaan multinasional menempatkan kantor pusat APAC mereka. Tapi tekanan geopolitik dari AS dan China akan terus menjadi hambatan utama bagi cita-cita Singapura menjadi pusat AI netral. Perusahaan AI yang memilih Singapura sebagai hub regional harus menyiapkan skenario risiko intervensi regulasi dari kedua negara. Tanpa kebijakan khusus dari pemerintah Singapura untuk melindungi operasional perusahaan dari intervensi luar, negara ini hanya akan menjadi pusat operasional sementara, bukan pusat inovasi AI netral yang diidamkan. Perusahaan yang tidak menyiapkan langkah antisipasi akan rugi besar ketika aturan dari luar tiba-tiba diterapkan.

Author bio: Oliver Hawthorne, koresponden utama media tinjauan teknologi internasional dengan pengalaman liputan industri AI selama 12 tahun.