Minyak Mentah di $97: Mengapa Harga Bensin Masih ‘Terbang’ Sementara Minyak ‘Terjun’?

(SeaPRwire) –   By: Christian Brooks

Krisis pertumbuhan pasar atau kejenuhan pasar? Harga minyak mentah Brent per 8 Juni 2026 berada di angka $97,15 per barel. Angka ini turun 84 sen dari kemarin. Namun, ini adalah kenaikan sekitar $30 dalam setahun terakhir. Harga kemarin adalah $97,99. Sebulan lalu, harganya $107,01. Setahun lalu, harganya hanya $66,96. Kenaikan 45,08% itu signifikan.

Faktor utama pergerakan harga minyak adalah pasokan dan permintaan. Gejolak ekonomi global atau ancaman perang dapat mengubah tren harga secara drastis. Ketika harga minyak mentah naik, harga bensin di pompa juga ikut naik. Namun, ketika harga minyak turun, harga bensin cenderung lambat turun. Fenomena ini sering disebut ‘roket dan bulu’. Ini menunjukkan adanya jeda dalam rantai pasokan.

Cadangan Minyak Strategis AS (Strategic Petroleum Reserve) berfungsi sebagai jaring pengaman. Cadangan ini penting untuk keamanan energi saat terjadi bencana. Ini bisa meredam lonjakan harga mendadak akibat guncangan pasokan. Namun, ini bukan solusi jangka panjang. Ini lebih kepada bantuan darurat untuk konsumen dan menjaga kelancaran sektor vital.

Harga minyak dan gas alam saling terkait. Kenaikan harga minyak dapat memengaruhi harga gas alam. Industri mungkin beralih ke gas alam jika memungkinkan. Ini meningkatkan permintaan gas alam. Pergerakan harga minyak mentah Brent menjadi tolok ukur global. West Texas Intermediate (WTI) adalah tolok ukur Amerika Utara. Brent lebih mencerminkan kinerja minyak global.

Sejarah harga minyak sangat fluktuatif. Perang, pemotongan pasokan, resesi global, dan kelebihan pasokan telah menyebabkan lonjakan dan penurunan tajam. Krisis minyak awal 1970-an akibat embargo Timur Tengah. Harga turun di pertengahan 1980-an karena permintaan rendah. Lonjakan terjadi lagi pada 2008 karena permintaan global. Namun, anjlok bersama krisis finansial. Pandemi COVID-19 pada 2020 menyebabkan permintaan runtuh. Harga sempat di bawah $20 per barel.

Harga minyak mentah dipengaruhi geopolitik dan keputusan OPEC+. Kebijakan energi pemerintah AS juga berperan. Pembukaan kembali lahan pengeboran minyak dan gas di Arktik oleh pemerintahan Trump pada 2025 membalikkan kebijakan Biden. Pasar berjangka (futures market) menentukan harga minyak secara konstan. Pasar ini adalah lelang di mana kontrak dibeli dan dijual untuk masa depan. Produksi minyak serpih (shale oil) AS meningkatkan pasokan. Ini membantu mencegah lonjakan harga yang ekstrem.

Harga minyak yang mahal berdampak pada inflasi. Biaya energi, logistik, dan transportasi meningkat. Ini membuat harga barang sehari-hari menjadi lebih mahal. Pengiriman barang dari gudang ke toko memengaruhi harga di supermarket.

Author bio: Christian Brooks, seorang komentator bisnis dan keuangan terkemuka yang fokus pada analisis pasar dan tren industri global.