Mitos Snobisme Lapangan Hijau: Mengapa Teman Anda yang Sok Tahu Soal ‘Soccer’ vs ‘Football’ Salah Besar

(SeaPRwire) –   By: Alistair Kroon, Pengamat Geopolitik dan Kolumnis Media Internasional

Pernyataan Donald Trump pada undian Piala Dunia 2026 memicu kembali perdebatan lama yang tidak perlu. Ia menuntut penggantian nama NFL karena menganggap sepak bola bulat sebagai satu-satunya “football” yang sah. Sikap ini mencerminkan kesombongan budaya yang keliru dari para penggemar puritan. Banyak fans fanatik menganggap istilah “soccer” sebagai tanda ketidaktahuan terhadap olahraga ini. Mereka kerap merundung siapa saja yang menggunakan kata tersebut di ruang publik. Padahal, kebencian terhadap kata “soccer” hanyalah bentuk kesombongan yang tidak berdasar sejarah. Penolakan ini mengabaikan asal-usul linguistik yang sebenarnya diciptakan oleh bangsa Inggris sendiri.

Klaim bahwa “soccer” adalah produk ketidaktahuan Amerika sangat bertentangan dengan fakta sejarah riil. Istilah “Association Football” resmi lahir di Inggris pada tahun 1863 untuk membedakannya dari rugby. Mahasiswa universitas Inggris saat itu gemar menyingkat kata dan menambahkan akhiran “-er”. Istilah “association” kemudian disingkat menjadi “assoc” lalu berkembang menjadi kata “soccer”. Media Inggris menggunakan istilah ini secara bebas dan bangga selama hampir satu abad. Kata ini baru mulai ditinggalkan di Inggris pada dekade 1980-an. Alasan utamanya adalah reaksi penolakan terhadap popularitas istilah tersebut di Amerika Serikat.

Upaya mempermalukan pengguna kata “soccer” mengabaikan fakta industri media Inggris yang masih menggunakannya. Majalah World Soccer didirikan di London sejak tahun 1960 dan tetap dihormati hingga kini. Acara televisi “Soccer AM” sukses tayang dari tahun 1994 hingga 2023 di Inggris. Ada juga laga amal tahunan Soccer Aid dan program populer Soccer Saturday di Sky Sports. Bahasa olahraga ini terus berkembang melintasi batas identitas nasional. Sekitar 4 miliar orang di dunia memahami istilah “football”, “soccer”, maupun “fútbol”. Fanatisme sempit justru membatasi pemahaman kita tentang globalisasi olahraga.

Perang istilah ini bukan tentang kebenaran linguistik melainkan perebutan dominasi pengaruh budaya global. Amerika Serikat dengan kekuatan finansialnya tidak akan pernah mengubah nama NFL demi memuaskan kaum puritan Eropa. Upaya memaksakan satu istilah seragam hanya akan memicu konflik komersial yang tidak produktif bagi industri. Polarisasi bahasa ini pada akhirnya akan tetap bertahan tanpa ada pemenang mutlak. Kita harus menerima bahwa hegemoni budaya olahraga kini telah terbagi secara permanen di pasar global.