AI Worm Adaptif: Cybersecurity Masuk Zaman Di Mana Patching Satu Bug Tak Cukup Lagi?

(SeaPRwire) –

Dr. Rina Setyawati, peneliti keamanan cyber senior di Institut Teknologi Bandung, melihat worm AI baru dari University of Toronto sebagai pergeseran paradigma. “Yang membuatnya berbahaya bukan cuma kemampuan self-spreading, tapi reasoning untuk mencari celah baru. Dulu kita bisa menghentikan worm dengan patch satu bug—sekarang, musuh ini bisa belajar dan beradaptasi sepanjang perjalanan. Defender harus bergerak lebih cepat, lebih cerdas.”

Bukti nyatanya ada di paper mereka yang berjudul “AI Agents Enable Adaptive Computer Worms”. Worm ini menggunakan open-weight LLM di mesin yang diretas untuk membuat strategi serangan tanpa intervensi manusia. Di simulasi jaringan korporat 33 mesin, rata-rata 75% mesin terbreach dan 66% di antaranya memiliki kehadiran permanen dalam seminggu. Lebih mengkhawatirkan, dia bisa membaca advisory kerentanan baru secara real-time (sama seperti tim keamanan) dan exploit celah itu sendiri—cutoff pengetahuan LLM tidak bisa menghentikannya.

Ini muncul setelah Anthropic meluncurkan model Mythos melalui Project Glasswing, yang mengungkap banyak celah yang belum dipatch di infrastruktur korporat. Gary McGraw dari Berryville Institute mengatakan ini lebih besar dari Mythos—model open-weight yang lebih kecil sekarang cukup bagus untuk jadi otak worm. Ari Herbert-Voss dari RunSybil menambahkan bahwa organisasi harus mempercepat patching, karena yang masih pakai timeline manusia akan tertinggal. Jamieson O’Reilly dari Dvuln menekankan perbedaan lab dan dunia nyata—orgs punya kontrol defensif, tapi AI mengurangi keahlian yang dibutuhkan untuk serangan otonom.

Untuk industri, ini adalah sinyal peringatan. Serangan cyber tidak lagi statis—mereka bisa beradaptasi. Defenders harus beralih dari patching semua celah ke prioritas yang paling kritis. Dana untuk tim keamanan juga harus ditingkatkan, karena banyak tim masih kurang dana. Di masa depan, AI akan menjadi senjata utama baik penyerang maupun defender. Race ini akan berlanjut—dan yang ketinggalan, akan menjadi korban.

Dr. Rina menutup: “Kita tidak bisa lagi bersandar pada strategi lama. Waktu untuk beradaptasi sudah sekarang.”

Artikel ini disediakan oleh penyedia konten pihak ketiga. SeaPRwire (https://www.seaprwire.com/) tidak memberikan jaminan atau pernyataan sehubungan dengan hal tersebut.

Sektor: Top Story, Daily News

SeaPRwire menyediakan distribusi siaran pers real-time untuk perusahaan dan lembaga, menjangkau lebih dari 6.500 toko media, 86.000 editor dan jurnalis, dan 3,5 juta desktop profesional di 90 negara. SeaPRwire mendukung distribusi siaran pers dalam bahasa Inggris, Korea, Jepang, Arab, Cina Sederhana, Cina Tradisional, Vietnam, Thailand, Indonesia, Melayu, Jerman, Rusia, Prancis, Spanyol, Portugis dan bahasa lainnya.