
(SeaPRwire) – Budi Santoso, analis senior sektor AI produktivitas yang sudah 12 tahun berkecimpung di industri ini, mengatakan pendanaan besar untuk Town menunjukkan adanya pergeseran besar kebutuhan pasar akan alat AI. Selama bertahun-tahun asisten AI yang beredar hanya bekerja secara reaktif, pengguna harus memberikan perintah jelas terlebih dahulu untuk mendapatkan manfaat. Banyak orang bahkan tidak menggunakan AI maksimal karena tidak paham batas kemampuan alat yang ada. Pendekatan Town yang membangun profil pengguna secara otomatis lalu menawarkan aksi sebelum diminta adalah celah pasar yang belum digarap dengan baik, bahkan oleh raksasa teknologi sekalipun.
Town didirikan akhir 2024 oleh Jean-Denis Grézé, mantan CTO Plaid, dan Tony Vincent, mantan direktur applied AI Google. Putaran pendanaan Seri A mereka sebesar 55 juta dolar AS dipimpin Andreessen Horowitz, diikuti Forerunner Ventures, First Round, Alt Capital, dan Conviction. Produk inti mereka adalah Townie, asisten AI personal yang bukan cuma chatbot biasa. Grézé sendiri memiliki Townie berbentuk rubah perak bernama Ivy, penghormatan untuk rambutnya yang memutih di usia muda, sementara saya sendiri coba membuat Townie berbentuk makhluk bulat berbulu bernama Algernon.
Cara kerjanya sederhana, pengguna harus menghubungkan email dan kalender saat mendaftar. Dalam lima menit pertama Town sudah bisa menyusun biografi pengguna berdasarkan data yang ada, lalu memberikan tiga sampai lima rekomendasi aksi yang bisa dia lakukan saat itu. Seiring waktu, Townie belajar preferensi pengguna, mencatat pola kegiatan, dan nanti akan menanyakan apakah dia bisa mengerjakan tugas tertentu secara otomatis. Contohnya membuat ringkasan profil pengirim email yang tidak dikenal, atau menerjemahkan dokumen ke bahasa yang disukai pengguna.
Target pengguna mereka adalah kalangan prosumer, 70 sampai 80 persen penggunaan untuk kerja, tapi kehidupan personal dan profesional mereka saling terhubung. Bahkan ada komunitas pengguna tukang ledeng Australia yang memakai Town, salah satu di antaranya menerima 300 email per hari tentang keadaan darurat, lokasi proyek, calon klien baru, sampai tagihan pemasok, semua diurutkan Town secara otomatis. Saat ini jumlah pengguna mereka hampir mencapai 10 ribu orang, retensi 99 persen selama dua bulan untuk pengguna yang sudah membuat setidaknya satu otomatisasi kustom.
Mereka menggunakan infrastruktur Google dan Microsoft, yang juga memiliki asisten AI sendiri yaitu Gemini dan Copilot yang punya akses data lebih dalam. Grézé tidak menafikan risiko ini, tapi dia menunjukkan preseden yang ada. Superhuman bersaing langsung dengan Gmail tidak pernah dikunci akses, Notion juga bisa mendapatkan pendapatan ratusan juta dolar berjalan di atas Google Docs. Bahkan Google sendiri ingin ekosistemnya tetap terbuka jika mau membuat produk kompetitif. Pendiri dan managing partner Forerunner Kirsten Green juga percaya Town bisa tetap unggul, karena tim mereka sangat fokus memberikan nilai spesifik untuk tipe pengguna tertentu, semua kerja tim berfokus membuat pengguna dan Townie mereka lebih produktif dan bisa bekerja sama dengan baik.
Keyakinan Green juga berasal dari latar belakang tim, Grézé pernah menjabat CTO Plaid selama 7 tahun, termasuk saat akuisisi Plaid oleh Visa batal karena pengawasan DOJ, dia melihat kesempatan keluar besar menghilang dan membangun kembali dari awal. Pelajaran yang dia dapat adalah membuat sesuatu yang disukai orang adalah satu-satunya hal yang tahan lama. Grézé mengatakan mereka tidak mau Town mengambil data pengguna, tidak mau mengancam pekerjaan orang, mereka cuma mau buat produk yang benar-benar membantu orang.
Pasar asisten AI global pada 2024 nilainya mencapai 16 miliar dolar AS, diproyeksikan naik menjadi 74 miliar dolar AS pada 2033. Lapisan perangkat lunak produktivitas yang menjadi dasar operasi Town sendiri nilainya sudah 110 miliar dolar AS, akan mencapai 196 miliar dolar AS pada 2031. Hadiah terbesar yang dikejar adalah lebih dari satu miliar pekerja pengetahuan di seluruh dunia, yang potensinya bisa menghasilkan pendapatan lebih dari satu triliun dolar AS.
Saat ini sebagian besar pengguna bahkan tidak memakai AI secara maksimal, 80 persen pengguna teratas memakai ChatGPT atau Claude paling banyak tiga kali sehari, karena mereka tidak tahu apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan AI, dan sistem yang ada tidak terhubung ke semua aplikasi yang mereka pakai. Ke depan, asisten AI yang proaktif dan terintegrasi penuh dengan alur kerja pengguna akan menjadi standar, bukan cuma fitur tambahan. Perusahaan yang bisa menawarkan personalisasi tinggi tanpa mengorbankan keamanan data pengguna akan menjadi pemenang di segmen ini, bahkan kalau mereka bersaing dengan raksasa teknologi yang sudah punya basis pengguna besar.
Artikel ini disediakan oleh penyedia konten pihak ketiga. SeaPRwire (https://www.seaprwire.com/) tidak memberikan jaminan atau pernyataan sehubungan dengan hal tersebut.
Sektor: Top Story, Daily News
SeaPRwire menyediakan distribusi siaran pers real-time untuk perusahaan dan lembaga, menjangkau lebih dari 6.500 toko media, 86.000 editor dan jurnalis, dan 3,5 juta desktop profesional di 90 negara. SeaPRwire mendukung distribusi siaran pers dalam bahasa Inggris, Korea, Jepang, Arab, Cina Sederhana, Cina Tradisional, Vietnam, Thailand, Indonesia, Melayu, Jerman, Rusia, Prancis, Spanyol, Portugis dan bahasa lainnya.