(SeaPRwire) –
By: Alistair Kroon, komentator geopolitik luar negeri terkenal yang rutin menerbitkan editorial di media arus utama
Pernyataan bersama AS dan Shield of the Americas buka pertarungan pengaruh di Bolivia. Ini bukan cuma kerusuhan sosial biasa. Ini pertarungan terbuka untuk kuasa di jantung Amerika Selatan. Semua pihak sudah mengeluarkan kartu mereka secara terang-terangan.
Secara resmi, pernyataan itu mengutuk upaya menggulingkan pemerintahan Presiden Rodrigo Paz. Paz dipilih secara sah dan mendapatkan suara mayoritas besar oleh rakyat Bolivia. Blok tersebut menyebut blokade jalan adalah upaya jahat hentikan pasokan pangan dan obat. Mereka menuntut semua pendana protes dari uang narkoba dipertanggungjawabkan. Pernyataan bersama ini dikeluarkan bersama 12 negara lain anggota Shield of the Americas. Kerusuhan sudah mengguncang La Paz selama berminggu-minggu, dipicu inflasi dan kenaikan harga bahan bakar. Setelah Paz hapus subsidi bahan bakar, harga melonjak hampir 90 persen. Menteri Pertahanan Bolivia Marcelo Salinas mengundurkan diri pada Selasa.
Di balik teks resmi pernyataan, ada niat geopolitik yang jelas. AS mendukung penuh pemerintahan Paz yang baru menjabat enam bulan. Menteri Perang AS Pete Hegseth sudah tegas menyatakan A3C akan mendukung rezim Paz. Pemerintahan AS menuduh pedagang narkoba menjadi otak di balik kerusuhan ini. Mantan Presiden Evo Morales dari partai MAS menjadi tokoh oposisi utama yang menyerukan pemilihan awal. Morales sudah bersembunyi hampir dua tahun di wilayah Chapare penghasil koka. Dia menghindari surat penangkapan atas tuduhan perdagangan manusia. Tuduhan itu terkait hubungan dengan gadis 15 tahun, tapi dia sebut itu bermotivasi politik. Morales mengatakan Paz hanya punya dua pilihan: militerisasi atau pemilihan dalam 90 hari.
Gaya kekuatan lama di Amerika Selatan semakin tersingkirkan oleh blok pro-AS baru yang terbentuk.