Deal di Balik Layar: Strategi Tersembunyi AS-Iran di Selat Hormuz

(SeaPRwire) –   By: Julian Holbrooke

Pengumuman Trump soal kesepakatan Selat Hormuz memicu kecurigaan. Pernyataan sosial medianya bertentangan dengan penolakan Iran. Kedua pihak masih berselisih soal detail. Pakistan berperan sebagai mediator. Namun, realitas di lapangan jauh lebih kompleks. Kesepakatan ini bukan sekadar pembukaan jalur laut. Ada kepentingan geopolitik yang tersembunyi. AS ingin mengontrol program nuklir Iran. Sementara Teheran menuntut akses dana beku. Ketegangan ini berpotensi mengganggu stabilitas regional.

Dokumen resmi menyebut penandatanganan elektronik Minggu. Namun juru bicara Iran membantah jadwal tersebut. Trump mengklaim akan “mendapatkan Debu Nuklir” dari Iran. Istilah itu merujuk pada uranium enrichment. Sementara Iran bersikeras tetap kontrol selat. Pakistan menyiapkan talk teknis pekan depan. Fakta ini menunjukkan negosiasi masih rapuh. Kedua belah pihak belum mencapai titik temu.

AS fokus pada pembatasan program nuklir. Iran menuntut pengembalian dana beku segera. Perundingan uranium enrichment ditunda pasca-kesepakatan. Mediasi Pakistan belum menghasilkan kesepakatan final. Trump berulang kali janji kesepakatan dekat. Namun realitas berbeda dengan retorika publik. Selat Hormuz tetap menjadi titik panas. Dampak ekonomi global masih mengambang.

Kesepakatan ini mungkin hanya taktik tunda. Dampak jangka panjangnya akan terasa di pasar minyak global.

Author bio: Julian Holbrooke, analis hubungan internasional berbasis Eropa yang kerap menulis untuk koran harian utama. Fokus pada dinamika geopolitik Timur Tengah dan strategi keamanan global.