Bom Waktu Protein: Analisis Mendalam tentang Lonjakan Harga Whey 250%

(SeaPRwire) –   By: Alisa Mercer

Pasar komoditas susu sedang diguncang lonjakan harga whey protein yang ekstrem. Harga bahan baku ini melonjak hingga 250% di pasar Amerika Serikat. Produsen terkejut melihat skala kenaikan yang tiba-tiba ini. Konsumen global mendesak kandungan protein di setiap gigitan makanan. Mereka mencampurkan whey ke dalam sereal, keripik, dan bahkan minuman kopi. Permintaan yang tak terkendali ini kini melampaui kapasitas pasokan yang tersedia. Industri susu jelas berada di bawah tekanan produksi yang berat.

Data pasar menunjukkan whey protein concentrate 80% kini diperdagangkan di atas $13 per pon. Di Eropa, harga rata-ratanya menyentuh rekor 26.450 euro per metrik ton. Ekspor ke China anjlok 47% karena stok dipertahankan untuk pasar domestik. Obat penurun berat badan seperti Wegovy dan Zepbound juga menambah beban permintaan. Sekitar 12% populasi dewasa Amerika diperkirakan menggunakan obat ini. Pengguna obat tersebut membutuhkan asupan protein tinggi untuk menjaga massa otot. Produsen seperti Now Foods terpaksa menaikkan harga jual akibat biaya bahan baku yang membengkak.

Ekspansi kapasitas produksi baru tidak akan memberikan kelegaan sebelum tahun 2027. Perusahaan seperti Glanbia dan Agropur masih dalam proses meningkatkan fasilitas manufaktur mereka. Jeda waktu ini menciptakan risiko penjepitan margin yang serius bagi pelaku industri. Jika harga eceran terus meroket, konsumen mungkin akan berhenti membeli produk whey. Penurunan permintaan ritel bisa memicu kegagalan bisnis bagi vendor yang tidak punya cadangan kas. Pemulihan keseimbangan pasar ini jelas bukanlah proses yang akan terjadi dalam semalam.

Author bio: Alisa Mercer, seorang pemimpin meja risiko komoditas yang berspesialisasi dalam logistik logam industri.