Retakan di Balik Janji Damai Trump: Israel Dikesampingkan, Iran Tetap Berbahaya

(SeaPRwire) –

By: Marcus Sinclair

Kecemasan keamanan di Timur Tengah kembali memuncak. Sebuah kesepakatan damai yang disebut-sebut akan mengakhiri perang AS-Iran, kini terancam bubar. Serangan terbaru Israel ke Beirut, menargetkan Hezbollah, telah memicu ketegangan mendalam. Ini bukan sekadar insiden militer biasa. Ini adalah retakan besar pada fondasi rapuh yang coba dibangun para mediator. Ini menunjukkan betapa dalamnya kebuntuan regional yang masih menghantui. Perdamaian di Lebanon, yang dijanjikan kesepakatan itu, terasa semakin jauh.

Fakta-fakta di lapangan sangat jelas. Militer Israel melancarkan serangan ke sasaran Hezbollah di Beirut pada hari Minggu. Tiga orang tewas, enam belas lainnya terluka. Iran segera mengancam respons militer. Presiden Trump, melalui media sosial, memperingatkan, “Kita sangat dekat dengan Kesepakatan yang akan membawa perdamaian ke kawasan, termasuk Lebanon,” dan “Jangan sampai kita merusaknya!” Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menentang desakan Trump untuk menghentikan serangan. Kantor Netanyahu menyatakan serangan itu respons terhadap tiga proyektil Hezbollah ke Israel utara. Trump sendiri mengecilkan serangan itu sebagai “sangat kecil dan tidak berarti.” Ia berpendapat itu seharusnya “tidak mengganggu proses penting ini.” Ini terjadi setelah eskalasi serius pada 7 April. Invasi Israel ke Lebanon juga lebih dalam sejak serangan Hezbollah pada 2 Maret.

Di balik retorika perdamaian, biaya geopolitiknya sangat tinggi. Pemerintah Israel merasa “sangat kecewa” dan “dikesampingkan” dalam negosiasi yang dipimpin Pakistan. Kesepakatan yang ada tidak menyelesaikan isu-isu paling pelik. Ini termasuk program nuklir Iran atau dana beku miliaran dolar. Ini hanya menawarkan kerangka kerja 60 hari untuk diskusi teknis. Tujuan awal AS dan Israel untuk menghancurkan program rudal dan nuklir Iran, serta mengakhiri dukungan proksi, tampaknya gagal tercapai. Iran masih memiliki 440.9 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60% kemurnian. Ini hanya selangkah dari tingkat senjata. Kritik di Partai Republik Trump juga menyoroti bahwa kesepakatan ini tidak lebih baik dari kesepakatan nuklir Iran 2015 yang ditarik Trump. Ini bukan akhir konflik. Ini jeda sementara yang sarat ketidakpastian. Kekuatan regional masih saling berhadapan tanpa resolusi mendasar.

Author bio: Marcus Sinclair, seorang Senior Fellow di sebuah think tank geopolitik dan keamanan terkemuka Eropa. Ia fokus pada analisis konflik regional dan dinamika kekuatan global.