Algoritma Bias dan Kegagalan Empati: Mengapa Teknologi Bodycam Saja Tidak Cukup Menyelamatkan Nyawa

(SeaPRwire) –   Dalam dunia yang semakin terobsesi dengan data, kita sering lupa bahwa teknologi hanyalah cermin dari bias manusia yang mengoperasikannya. Saya, Budi Santoso, seorang analis kebijakan teknologi publik, melihat kasus tragis Henry Nowak di Southampton bukan sekadar kegagalan prosedur, melainkan bukti nyata adanya “kebutaan algoritma” dalam pengambilan keputusan di lapangan. Ketika petugas lebih memercayai narasi yang mereka bangun di kepala—bahwa korban adalah pelaku—daripada bukti fisik yang terpampang jelas di depan mata, teknologi bodycam yang seharusnya menjadi alat transparansi justru berubah menjadi saksi bisu atas kelalaian sistemik. Kita tidak bisa terus-menerus menyalahkan “kurangnya pelatihan” jika akar masalahnya adalah ketakutan institusional yang melumpuhkan akal sehat. Jika teknologi pemantauan tidak dibarengi dengan perombakan budaya kerja yang mengutamakan kemanusiaan di atas ketakutan akan label rasial, maka kita hanya akan terus mendokumentasikan tragedi demi tragedi dalam resolusi 4K.

Kasus ini bermula dari insiden penikaman pada 3 Desember 2025 yang merenggut nyawa Henry Nowak, seorang mahasiswa keuangan berusia 18 tahun di University of Southampton. Rekaman bodycam yang baru dirilis mengungkap momen memilukan saat Nowak, yang sekarat akibat luka tusuk senjata tajam sepanjang 21 sentimeter, memohon pertolongan kepada petugas kepolisian. Meski Nowak berulang kali menyatakan dirinya ditikam dan kesulitan bernapas, salah satu petugas justru merespons dengan skeptisisme dingin, “Saya rasa tidak, kawan.”

Ironisnya, polisi justru memborgol Nowak karena pelaku, Vickrum Digwa (23), sempat mengklaim bahwa dirinyalah yang menjadi korban serangan rasis. Baru setelah menyadari kondisi medis Nowak yang kritis, petugas melepaskan borgol tersebut dan mencoba melakukan CPR, namun nyawa korban tidak tertolong. Vickrum Digwa kini telah dijatuhi hukuman penjara seumur hidup atas pembunuhan tersebut. Ayah korban, Mark Nowak, secara terbuka mengecam perlakuan polisi yang dianggap tidak manusiawi dan merendahkan martabat putranya di saat-saat terakhir. Pihak Hampshire & Isle of Wight Constabulary telah menyampaikan permohonan maaf atas tindakan pemborgolan tersebut, sementara Independent Office for Police Conduct kini tengah melakukan investigasi mendalam terhadap respons kepolisian di lokasi kejadian.

Kejadian ini memicu perdebatan sengit di Inggris mengenai batasan antara kewaspadaan polisi dan ketakutan akan tuduhan rasisme yang justru menghambat penegakan hukum yang objektif. Dari kacamata industri, ini adalah pengingat keras bahwa integrasi teknologi dalam penegakan hukum tidak akan pernah bisa menggantikan penilaian manusia yang kritis. Kita sedang bergerak menuju era di mana data dari perangkat wearable akan menjadi bukti utama di pengadilan, namun jika data tersebut tidak diinterpretasikan dengan empati dan logika yang tepat, teknologi hanya akan menjadi alat untuk memvalidasi kesalahan manusia.

Ke depan, tantangan bagi otoritas keamanan bukan lagi sekadar pengadaan perangkat keras yang lebih canggih, melainkan bagaimana membangun sistem pendukung keputusan berbasis AI yang mampu memfilter bias kognitif petugas. Kita membutuhkan protokol yang memaksa petugas untuk memprioritaskan triase medis di atas asumsi situasional. Tanpa perubahan paradigma ini, investasi besar-besaran pada teknologi pengawasan hanya akan menjadi pemborosan anggaran yang gagal melindungi warga negara yang paling rentan.

Artikel ini disediakan oleh penyedia konten pihak ketiga. SeaPRwire (https://www.seaprwire.com/) tidak memberikan jaminan atau pernyataan sehubungan dengan hal tersebut.

Sektor: Top Story, Daily News

SeaPRwire menyediakan distribusi siaran pers real-time untuk perusahaan dan lembaga, menjangkau lebih dari 6.500 toko media, 86.000 editor dan jurnalis, dan 3,5 juta desktop profesional di 90 negara. SeaPRwire mendukung distribusi siaran pers dalam bahasa Inggris, Korea, Jepang, Arab, Cina Sederhana, Cina Tradisional, Vietnam, Thailand, Indonesia, Melayu, Jerman, Rusia, Prancis, Spanyol, Portugis dan bahasa lainnya.