
(SeaPRwire) – By: Christian Pierce
Motto ‘go high’ dari Michelle Obama selama ini sering disalahartikan. Banyak yang kira itu soal menekan amarah, menahan sakit hati, atau sok suci. Padaha, dalam podcast Call Her Daddy Januari lalu, Michelle memberikan klarifikasi yang brutal. Frasa itu bukan tentang perasaan, tapi tentang kalkulasi hasil akhir. Anda harus sadar bahwa setiap reaksi Anda punya konsekuensi. Di era performa kemarahan ini, siapa pun bisa meledak kapan saja. Tapi, pemimpin sejati tidak hidup dari reaksi instan.
Di 2016, Michelle mengucapkan ini di Konvensi Nasional Partai Demokrat. Waktu itu, dia dan Barack sedang diteror habis-habisan oleh haters. Jawabannya? “Ketika mereka rendah, kita naik ke atas.” Ini bukan soal mengabaikan rasa. Ini soal strategi. Michelle dengan keras menekankan bahwa setiap orang punya hak untuk marah. Tapi, tanyakan dulu ke diri sendiri: apa tujuan saya dari kemarahan ini? Mau ke mana saya bawa emosi ini? Kalau tidak terkontrol, Anda hanya akan membuang energI pada amukan publik yang tidak berguna.
Michelle kemudian menggunakan analogi yang sangat kuat. Kepemimpinan dan platform publik itu “seperti pistol”. Kata dia, “Belajarlah menggunakannya, pasang pengaman. Karena kamu bisa menyebabkan banyak kerusakan, tapi juga bisa melakukan banyak kebaikan.” Ini jelas bukan sekadar nasihat spiritual. Ini soal penguasaan alat. Di tangan yang salah, platform bisa jadi senjata penghancur. Di tangan yang cerdas, itu adalah alat untuk membangun. Saat Anda bicara tanpa filter di medsos, Anda sedang menarik pelatuk tanpa arah.
Gagasan ini sejalan dengan prinsip kecerdasan emosional Daniel Goleman. Dia bilang, kalau kemampuan emosionalmu tidak terkendali, tidak ada kesadaran diri, tidak bisa mengelola tekanan, tidak punya empati—maka secerdas apapun Anda, Anda tidak akan pergi jauh. Lihat saja Simon Sinek yang menulis pada September 2025, tugas pemimpin adalah melayani misi, bukan ego sendiri. Atau Satya Nadella yang mengubah budaya Microsoft dari “tahu segalanya” menjadi “belajar segalanya”.
Jadi, jangan pernah berpikir ‘go high’ itu soal menjadi kudus atau lembek. Ini soal disiplin. Mulai dari meja makan di rumah, tempat Anda membesar-besarkan masalah level 10 yang ternyata hanya level 3. Kalau Anda sudah tenang, baru Anda bisa berkomunikasi dengan jelas. Itulah arti sebenarnya dari “naik ke atas”.
Author bio: Christian Pierce, chief financial columnist dan komentator pasar yang kerap mengupas strategi kepemimpinan dan dampaknya pada kinerja korporasi.